Banner Website
Ekonomi & Bisnis

Riau Siap Jalankan SISKA, Targetkan Populasi Sapi Tembus 500 Ribu Ekor

20
×

Riau Siap Jalankan SISKA, Targetkan Populasi Sapi Tembus 500 Ribu Ekor

Sebarkan artikel ini
Riau Siap Jalankan SISKA
Populasi Sapi Tembus 500 Ribu Ekor, Kamis (9/4/2026). Taktiknews/Md

Taktiknews.com, Pekanbaru – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau menegaskan kesiapan penuh dalam mengimplementasikan Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) sebagai strategi penguatan ketahanan pangan dan ekonomi daerah.

Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, menyebut bahwa integrasi antara sektor peternakan dan perkebunan bukan konsep baru di Riau. Praktik ini telah lama dijalankan secara alami oleh masyarakat, terutama petani sawit yang juga memelihara ternak sapi.

“Sektor peternakan di Provinsi Riau sangat siap untuk mendukung implementasi SISKA. Kondisi ini diperkuat dengan fakta bahwa sebagian petani kelapa sawit kita telah memelihara ternak sapi, sehingga konsep integrasi ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Mimi Yuliani Nazir di Pekanbaru, Kamis (9/4/2026).

Untuk mempercepat implementasi, Pemprov Riau telah membentuk tujuh klaster SISKA sebagai proyek percontohan yang tersebar di lima kabupaten. Klaster ini akan menjadi model awal dalam mengembangkan pola integrasi yang lebih modern dan terukur.

Di Kabupaten Rokan Hulu, dua klaster dibangun yakni Klaster Sangkir Jaya di Desa Sangkir Indah dan Klaster Ternak Barokah di Desa Tandun. Kabupaten Pelalawan memiliki Klaster Ternak Maju Bersama di Desa Rawang Sari, sementara Kabupaten Kampar mengembangkan Klaster Jaya Abadi di Desa Tapung Lestari.

Di Kabupaten Siak, terdapat Klaster Talago Samsam di Kandis dan Klaster Mutiara Indah di Tualang. Sedangkan Kabupaten Indragiri Hulu mengelola Klaster Sinar Bakti di Desa Pontian Mekar.

Menurut Mimi, keberadaan klaster ini menjadi langkah penting dalam merancang model bisnis integrasi yang efektif. Melalui evaluasi dari pilot project tersebut, pemerintah dapat menyempurnakan sistem agar memberikan nilai tambah optimal bagi sektor perkebunan dan peternakan.

Saat ini, populasi sapi di Riau tercatat sebanyak 206.205 ekor. Angka tersebut dinilai masih jauh dari potensi maksimal, mengingat luasnya lahan perkebunan sawit yang diperkirakan mampu menampung hingga 500.000 ekor sapi jika SISKA diterapkan secara optimal.

“Populasi eksisting saat ini masih jauh di bawah potensi daya tampung lahan sawit kita yang bisa mencapai 500.000 ekor. Ini adalah peluang emas yang harus kita tangkap untuk meningkatkan populasi ternak nasional dari Riau,” tambah Mimi.

Dari sisi kualitas, ternak sapi di Riau dinilai memiliki mutu genetik yang baik. Hal ini didukung oleh keberadaan 195 petugas Inseminasi Buatan (IB) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota, serta pola pemeliharaan yang mencegah terjadinya kawin sedarah.

Selain itu, ketersediaan pakan alternatif dari limbah sawit seperti solid, bungkil, dan pelepah menjadi keunggulan tersendiri dalam menekan biaya produksi sekaligus mendukung pengelolaan limbah yang lebih produktif.

Meski demikian, Mimi mengakui masih terdapat tantangan dalam implementasi SISKA, terutama terkait koordinasi lintas sektor dan keterlibatan perusahaan perkebunan skala besar yang masih terbatas.

Di sisi lain, pengelolaan kolektif oleh pekebun kecil dalam satu klaster juga membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan agar sistem dapat berjalan optimal.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Dinas PKH Riau terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan lembaga riset seperti BRIN hingga Wageningen University melalui forum ilmiah internasional.

Dengan dukungan akademisi dan tenaga teknis di lapangan, pemerintah optimistis SISKA akan menjadi fondasi baru dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong ekonomi berkelanjutan di Provinsi Riau.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *