PRINGSEWU, TAKTIKNEWS.COM — Matahari siang menggantung tinggi di atas aliran Sungai Way Sekampung. Airnya berwarna kecokelatan, mengalir tenang di antara hamparan sawah hijau dan deretan pohon kelapa yang bergoyang pelan tertiup angin.
Di atas bentangan rangka baja yang mulai kokoh berdiri, beberapa orang tampak sibuk bekerja. Suara mesin gerinda memecah kesunyian desa, bersahut dengan bunyi palu yang menghantam besi. Papan kayu disusun satu per satu, sementara kabel-kabel baja ditarik dan dikencangkan dengan hati-hati.
Di sinilah Jembatan Gantung Garuda Tahap II sedang diselesaikan.
Hingga Sabtu (7/3/2026), progres pembangunannya telah mencapai 96 persen. Bentangan sepanjang 80 meter dengan lebar 1,2 meter itu perlahan berubah dari sekadar rangka konstruksi menjadi jalur penghubung yang selama ini dinanti warga.
Bagi masyarakat di Pekon Sukoharjo IV, Kecamatan Sukoharjo, jembatan ini bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah jalan keluar dari keterisolasian yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sungai Way Sekampung selama ini menjadi garis pemisah antara Pekon Sukoharjo IV dan Pekon Jogjakarta, Kecamatan Gadingrejo. Saat musim kemarau, sebagian warga masih bisa menyeberang melalui jalur alternatif yang memutar cukup jauh. Namun ketika hujan datang dan air sungai meluap, akses itu nyaris tak bisa dilewati.
Bagi para petani, kondisi tersebut sering kali berarti kerugian. Sukardi (45), petani kelapa sawit di Sukoharjo IV, mengatakan selama ini mereka harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk membawa hasil panen ke pasar.
“Kalau sungai meluap, kami seperti terisolasi. Hasil panen harus dibawa memutar jauh. Dengan jembatan ini nanti jarak ke pasar bisa dipangkas setengahnya,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Tono, petani lain di desa tersebut. Selama ini, ia harus melewati jalur alternatif yang memakan waktu lebih lama untuk mencapai lahannya maupun membawa hasil panen keluar desa. Baginya, keberadaan jembatan itu akan mengubah ritme kehidupan sehari-hari warga.

Pembangunan jembatan ini melibatkan 27 personel gabungan, terdiri dari 15 prajurit TNI, 4 anggota Vertical Rescue Indonesia (VRI), serta 8 warga setempat. Kolaborasi itu terlihat jelas di lapangan. Sebagian orang memasang papan lantai jembatan, sementara yang lain merakit besi pagar di sisi kiri dan kanan bentangan.
Di tengah pekerjaan itu, seorang prajurit tampak berjalan di atas papan kayu yang telah terpasang sambil membawa peralatan kerja di bahunya, sementara di bawahnya air Sungai Way Sekampung mengalir perlahan.
Komandan Kodim 0424/Tanggamus, Dwi Djunaidi Mulyono, mengatakan pembangunan jembatan ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
“Pembangunan ini bukan sekadar pekerjaan fisik. Ini adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, infrastruktur sederhana seperti jembatan justru memiliki dampak besar bagi kehidupan warga. Akses menuju pendidikan, layanan kesehatan, hingga distribusi hasil pertanian akan menjadi lebih cepat dan efisien.
Secara teknis, sebagian besar pekerjaan utama telah rampung. Penggalian lubang anchor serta pembuatan garpu dan anchor telah mencapai 100 persen, begitu pula dengan pemasangan hanger jembatan. Sementara pemasangan papan dan ram kawat mencapai 80 persen, pemasangan pagar jembatan 80 persen, serta pemasangan plang identitas dan pengecatan 85 persen.
Tokoh masyarakat setempat, Rahwoyo, mengatakan jembatan tersebut akan membawa perubahan besar dalam kehidupan warga. Selama ini perjalanan menuju Puskesmas Gadingrejo membutuhkan waktu lama karena harus memutar melalui jalur lain. Dengan jembatan baru, waktu tempuh diperkirakan dapat dipersingkat menjadi sekitar 30 menit.
“Kalau jembatan ini sudah jadi, akses ke sekolah dan fasilitas kesehatan akan jauh lebih mudah,” katanya.
Pembangunan Jembatan Garuda juga mendapat apresiasi dari Gubernur Lampung, Rahmad Mirzani Djausal, yang menilai percepatan pembangunan infrastruktur yang melibatkan TNI sangat membantu masyarakat di daerah. Program serupa sebelumnya juga dilakukan di Kabupaten Tanggamus dan direncanakan akan berlanjut ke wilayah lain di Provinsi Lampung.
Sementara itu, Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, menyampaikan terima kasih kepada jajaran Kodim 0424/Tanggamus yang telah membantu pembangunan jembatan tersebut.
Menurutnya, infrastruktur ini bukan hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menggerakkan roda ekonomi desa.
Menjelang sore, pekerjaan di atas jembatan masih berlangsung. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya ke permukaan Sungai Way Sekampung. Di antara rangka baja dan papan kayu yang hampir selesai dipasang, para pekerja terus menuntaskan bagian terakhir dari jembatan itu.
Tak lama lagi, bentangan sepanjang 80 meter tersebut tidak lagi sekadar proyek pembangunan. Ia akan menjadi jalan baru bagi petani yang membawa hasil panen, anak-anak yang berangkat sekolah, dan warga desa yang selama ini harus memutar jauh hanya untuk mencapai pusat aktivitas di Kabupaten Pringsewu.
Dan ketika hari itu tiba, Sungai Way Sekampung tidak lagi menjadi batas yang memisahkan dua wilayah, melainkan menjadi saksi lahirnya sebuah penghubung baru bagi kehidupan masyarakat.












