Rakyat45.com, Pekanbaru – BMKG El Nino 2026 dipastikan menjadi perhatian pemerintah menyusul peluang kemunculannya yang mencapai 98 persen. Fenomena iklim global tersebut diperkirakan memperkuat musim kemarau dan menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama pada Juli hingga Oktober 2026.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan El Nino telah memasuki kategori kuat. Karena itu, pemerintah pusat dan daerah diminta segera menyiapkan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, Senin (29/6/2026)
Peringatan tersebut disampaikan Teuku Faisal saat sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi dampak El Nino dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri.
“Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, fenomena elnino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Oleh karena itu, elnino berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau,” sebutnya.
Wilayah yang diprediksi menerima dampak paling besar meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.
Selain meningkatkan potensi kekeringan, El Nino juga dinilai dapat memicu kebakaran hutan dan lahan, mengganggu produksi pangan, menurunkan kualitas udara, hingga memberi tekanan terhadap inflasi di berbagai daerah.
Teuku Faisal menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang terjadi secara berkala dan berbeda dengan musim kemarau. Menurutnya, musim kemarau adalah siklus tahunan, sedangkan El Nino hanya muncul pada periode tertentu dan dapat memperkuat kondisi kering saat keduanya berlangsung bersamaan.
“Sampai dengan Juni ini ada beberapa daerah yang sudah mengalami musim kemarau. Jadi fenomena elnino mempengaruhi bagian selatan garis khatulistiwa, mulai dari NTT, NTB, Bali, Jawa bagian pesisir, kemudian Sumatera bagian selatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, fenomena El Nino diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan. Namun, hal itu bukan berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.
“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya elnino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” jelasnya.
BMKG mengajak seluruh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam menghadapi dampak El Nino agar risiko terhadap masyarakat dan sektor strategis dapat diminimalkan.
“Saya yakin, dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, akan membuat kita bangsa Indonesia jauh lebih tangguh dan siap dalam menghadapi fenomena iklim ini,” tutupnya.***














