TaktikNews.com, Siak – Kemunculan Harimau Sumatera di kawasan permukiman kembali meresahkan warga Dusun Mekar Jaya, Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak. Sejak akhir Januari 2026, satwa dilindungi tersebut dilaporkan berkeliaran di sekitar rumah penduduk dan memangsa ternak warga.
Ancaman pertama kali dirasakan pada 23 Januari 2026, saat seekor ayam milik warga ditemukan mati dengan kondisi diduga kuat akibat serangan harimau. Sejak kejadian itu, warga mulai meningkatkan kewaspadaan dengan berjaga pada malam hari dan membatasi aktivitas di luar rumah.
Situasi kian mencekam setelah dua ekor kambing milik warga bernama Masruri dilaporkan hilang dari kandang pada dini hari. Kondisi kandang yang rusak serta jejak kaki besar di sekitar lokasi memperkuat dugaan adanya lebih dari satu ekor harimau yang masuk ke area permukiman.
“Sekitar jam tiga pagi saya cek kandang, sudah berantakan dan kambing tidak ada. Dari bekas jejaknya, kami curiga bukan satu harimau saja,” ujar Masruri kepada TaktikNews.com, Rabu (11/2/2026).
Ancaman tersebut semakin nyata setelah kamera pengawas milik warga merekam kemunculan harimau di pekarangan rumah. Rekaman CCTV pada 6 Februari 2026 sekitar pukul 22.00 WIB menunjukkan seekor harimau berjalan di area belakang rumah warga, hanya berjarak beberapa meter dari bangunan tempat tinggal.
Masruri mengaku sempat menghalau satwa tersebut dengan membunyikan peralatan logam dan panci saat mendekati kandang ternaknya. Cara itu membuat harimau menjauh, namun tidak menghilangkan rasa takut warga.
“Kami sekarang hidup dalam rasa waswas. Malam harus berjaga, siang pun ke kebun atau antar anak sekolah harus beramai-ramai,” ungkapnya.
Laporan atas kejadian tersebut telah disampaikan warga ke pihak kecamatan, BPBD Kabupaten Siak, serta Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Menindaklanjuti laporan itu, BBKSDA Riau telah memasang kamera trap di dua titik untuk memantau jumlah dan pergerakan harimau di sekitar permukiman.
Kepala BPBD Kabupaten Siak, Novendra Kasmara, membenarkan pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Namun, ia menegaskan bahwa penanganan teknis konflik satwa liar sepenuhnya menjadi kewenangan BBKSDA.
“Kami sudah turun ke lapangan. Untuk penanganan harimaunya, akan dilakukan oleh pihak yang berwenang. Informasinya, dalam waktu dekat akan dilakukan langkah lanjutan,” ujarnya.
Warga Dusun Mekar Jaya mendesak agar penanganan dilakukan secepat mungkin guna mencegah jatuhnya korban jiwa. Meski memahami bahwa Harimau Sumatera merupakan satwa dilindungi, warga berharap keselamatan manusia tetap menjadi prioritas.
“Kami tidak ingin menyakiti harimau, tapi kami juga ingin aman tinggal di rumah sendiri. Jangan sampai ada korban,” tegas Masruri.
Hingga berita ini diterbitkan, warga masih melakukan ronda malam secara bergiliran, sementara petugas konservasi terus memantau pergerakan satwa liar tersebut. Kondisi di lapangan dinilai masih rawan dan membutuhkan langkah cepat, terukur, serta berimbang antara perlindungan manusia dan kelestarian Harimau Sumatera.***













