Taktiknews.com – Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) setelah Oman memastikan aktivitas ekspor minyak di Pelabuhan Mina Al Fahal tetap berlangsung normal. Kepastian tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global yang sempat mencuat akibat laporan ledakan di dekat fasilitas ekspor minyak negara itu.
Meski terkoreksi secara harian, harga minyak dunia masih mencatatkan kinerja positif dalam sepekan terakhir. Penguatan mingguan ini menjadi yang pertama dalam tiga pekan terakhir, didorong meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 50 sen atau 0,53 persen menjadi US$94,53 per barel pada pukul 16.15 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 43 sen atau 0,46 persen ke level US$92,61 per barel.
Tekanan terhadap harga minyak mereda setelah pemerintah Oman memastikan operasional ekspor di Pelabuhan Mina Al Fahal tidak mengalami gangguan. Sebelumnya, pasar sempat mengkhawatirkan adanya risiko terganggunya pasokan dari kawasan Teluk akibat insiden yang dilaporkan terjadi di sekitar fasilitas tersebut.
Namun demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Ketegangan meningkat setelah perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan berjalan lambat. Di sisi lain, kelompok Hizbollah yang didukung Iran menolak proposal gencatan senjata di Lebanon yang dimediasi Washington.
Iran juga tetap menjadikan kesepakatan gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat utama dalam pembahasan perdamaian dengan Amerika Serikat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih melihat adanya kemajuan dalam upaya penyelesaian konflik di kawasan tersebut. Meski demikian, pasar menilai situasi geopolitik masih sangat dinamis dan sulit diprediksi.
“Setiap optimisme yang muncul masih dibayangi oleh berbagai pemberitaan dan bantahan yang saling bertentangan,” kata analis pasar IG Tony Sycamore, dikutip dari Reuters.
Selain konflik regional, perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melintasi kawasan tersebut, sehingga setiap potensi gangguan lalu lintas kapal dapat berdampak langsung terhadap pasokan dan harga minyak dunia.***














