Banner Website
Ekonomi & Bisnis

Harga CPO Dunia Melonjak, Petani Sawit Masih Tertekan di Hilir

78
×

Harga CPO Dunia Melonjak, Petani Sawit Masih Tertekan di Hilir

Sebarkan artikel ini
Harga CPO Dunia Melonjak, Petani Sawit Masih Tertekan di Hilir
Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr Gulat ME Manurung, saat menyampaikan data perkembangan harga CPO dan TBS sepanjang 2025. (Foto : TN/Apkasindo).

Taktiknews.com, Pekanbaru – Harga CPO Dunia Melonjak, Petani Sawit Masih Tertekan di Hilir meski sepanjang tahun 2025 harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global menunjukkan tren penguatan signifikan.

Kenaikan harga internasional tersebut belum sepenuhnya berdampak positif terhadap kesejahteraan petani sawit di dalam negeri.

Berdasarkan data Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP Apkasindo), rata-rata harga CPO global di pasar Rotterdam sepanjang 2025 mencapai Rp20.637 per kilogram, atau meningkat 19,65 persen dibandingkan rata-rata tahun 2024.

Lonjakan ini dipicu oleh kuatnya permintaan global serta dinamika positif pasar minyak nabati dunia.

Ketua Umum DPP Apkasindo Dr Gulat ME Manurung, didampingi Sekretaris Jenderal Dr Rino Afrino, menjelaskan pergerakan harga CPO global selama 2025 tergolong sangat fluktuatif. Harga tertinggi tercatat pada Maret 2025 yang menembus Rp22.712 per kilogram, sementara titik terendah terjadi pada Mei 2025 di level Rp17.980 per kilogram.

Menurut Gulat, harga CPO Rotterdam masih menjadi acuan utama pasar CPO nasional.

Setiap kenaikan harga internasional secara langsung memengaruhi harga domestik, baik melalui mekanisme tender Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) maupun transaksi di Bursa CPO Indonesia (ICDX).

Sepanjang 2025, rata-rata harga CPO melalui tender KPBN tercatat Rp14.261 per kilogram, naik 13,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Harga tertinggi di KPBN terjadi pada Maret 2025 sebesar Rp14.995 per kilogram, sementara harga terendah kembali muncul pada Mei 2025 di kisaran Rp13.390 per kilogram.

Sementara itu, di Bursa CPO Indonesia (ICDX), rata-rata harga CPO sepanjang 2025 berada di angka Rp14.077 per kilogram, atau meningkat 5,72 persen dibandingkan 2024.

Puncak harga tercatat pada Agustus 2025 sebesar Rp14.663 per kilogram, sedangkan harga terendah terjadi pada Mei 2025 di level Rp13.249 per kilogram.

Gulat menilai perbedaan waktu puncak harga antara KPBN dan ICDX mencerminkan ketidaksamaan kondisi pasokan dan permintaan domestik, termasuk strategi penjualan, kebutuhan industri hilir, serta dinamika stok CPO dalam negeri.

Kenaikan harga CPO turut mendorong peningkatan harga tandan buah segar (TBS) di berbagai daerah sentra sawit. Secara nasional, rata-rata harga TBS sepanjang 2025 mencapai Rp2.974 per kilogram, atau naik 18,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Harga TBS tertinggi tercatat di Provinsi Riau pada Maret 2025 yang mencapai Rp3.500 per kilogram.

Sebaliknya, harga terendah terjadi di Provinsi Banten pada Juli 2025 dengan nilai Rp2.264 per kilogram.

Perbedaan harga antarwilayah dipengaruhi oleh kebijakan penetapan harga, kualitas TBS, serta jarak dan akses petani ke pabrik kelapa sawit.

Namun demikian, Gulat menegaskan bahwa kenaikan harga belum sepenuhnya dinikmati petani sawit, terutama di tingkat akar rumput.

Apkasindo mencatat lebih dari 90 persen petani sawit masih menerima harga TBS di bawah harga penetapan resmi provinsi.

Disparitas harga tersebut rata-rata mencapai Rp300 per kilogram bagi petani bermitra, sementara petani swadaya atau nonmitra mengalami selisih yang lebih besar, yakni sekitar Rp750 per kilogram di bawah harga penetapan.

“Kondisi ini menunjukkan pengawasan masih lemah dan sistem kemitraan belum berjalan optimal,” tegas Gulat, Minggu (10/1/2026).

Ia menekankan pentingnya peran aktif pemerintah daerah, pabrik kelapa sawit, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan harga TBS di tingkat petani benar-benar sesuai regulasi.

“Tanpa pengawasan yang tegas, kenaikan harga CPO global hanya akan dinikmati industri hulu, sementara petani tetap menjadi pihak paling rentan dalam rantai pasok sawit nasional,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *