Banner Website
Ekonomi & Bisnis

Ekonomi Riau Tumbuh 4,94%, Tantangan SDA dan Migas Masih Bayangi

52
×

Ekonomi Riau Tumbuh 4,94%, Tantangan SDA dan Migas Masih Bayangi

Sebarkan artikel ini
Ekonomi Riau Tumbuh 4,94%, Tantangan SDA dan Migas Masih Bayangi
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Riau, Heni Kartikawati. (Taktiknews/Made)

Taktiknews.com, Pekanbaru – Perekonomian Provinsi Riau menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global. Hingga Triwulan IV 2025, pertumbuhan ekonomi daerah ini tercatat 4,94 persen (year-on-year), meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 3,52 persen.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Riau, Heni Kartikawati, menyampaikan bahwa capaian tersebut tergolong solid meski dunia tengah diliputi ketidakpastian, termasuk memanasnya tensi geopolitik internasional.

“Di tengah situasi global yang tidak menentu, ekonomi Riau tetap tumbuh positif hingga akhir 2025,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).

Meski tumbuh positif, struktur ekonomi Riau masih sangat bergantung pada sumber daya alam (SDA). Industri pengolahan menyumbang 30,45 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), disusul sektor pertanian 27,96 persen dan pertambangan 15,03 persen.

Namun, industri pengolahan di Riau mayoritas masih berbasis komoditas mentah seperti kelapa sawit, minyak dan gas bumi (migas), serta batubara yang diolah menjadi barang setengah jadi. Artinya, nilai tambah ekonomi yang dihasilkan belum maksimal.

Ketergantungan terhadap SDA ini membuat pertumbuhan ekonomi Riau masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5,39 persen.

“Struktur ekonomi kita sangat dipengaruhi komoditas. Ketika produksi migas dan batubara turun, dampaknya langsung terasa,” jelas Heni.

Dari sisi pengeluaran, ekonomi Riau ditopang oleh konsumsi rumah tangga sebesar 35,18 persen, ekspor luar negeri 30,65 persen, serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 30,04 persen.

Ekspor menjadi salah satu penopang penting. Pada Triwulan IV 2025, ekspor tumbuh 5,58 persen (yoy), mendorong kontribusi terhadap PDRB sebesar 2,74 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini didukung harga CPO (crude palm oil) yang relatif masih tinggi serta permintaan global yang tetap kuat.

Sebaliknya, sektor pertambangan mengalami tekanan akibat tren penurunan produksi migas dan batubara yang terus berlanjut.

Dari sisi harga, Riau mencatat deflasi sebesar -0,45 persen (month-to-month) pada Januari 2026. Penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi faktor utama, terutama cabai merah, cabai rawit, bawang merah, buncis, telur ayam ras, serta tarif angkutan udara.

Pemulihan pasokan pangan dari Sumatera Barat yang sebelumnya terdampak bencana hidrologis turut membantu menekan harga di pasar.

Untuk Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Riau diperkirakan berada pada kisaran 4,7 hingga 5,2 persen. Optimisme ini didorong oleh stabilnya harga komoditas utama serta pemulihan aktivitas ekonomi regional.

Meski demikian, tantangan struktural tetap menjadi perhatian, terutama kebutuhan diversifikasi ekonomi dan peningkatan nilai tambah industri agar tidak terus bergantung pada fluktuasi komoditas global.

Dengan berbagai indikator tersebut, ekonomi Riau dinilai tetap resilien. Namun, penguatan sektor hilirisasi dan pengurangan ketergantungan pada migas menjadi pekerjaan rumah besar ke depan.***

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *