Taktiknews.com, Jakarta – Upaya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan perkotaan terus digencarkan. Belantara Foundation berkolaborasi dengan Gaia Indonesia, Himpunan Mahasiswa Biologi Helianthus FMIPA, serta Wapalapa Universitas Pakuan menggelar Belantara Biodiversity Class di Tebet Eco Park, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini dirancang sebagai program peningkatan kapasitas generasi muda dalam mendata dan mengidentifikasi biodiversitas, khususnya burung, amfibi, dan reptil yang hidup di ruang terbuka hijau perkotaan.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menjelaskan bahwa Tebet Eco Park dipilih karena memiliki potensi ekologis yang besar sebagai habitat satwa liar di tengah kota. Taman seluas 7,3 hektare ini dinilai mampu menjadi ruang belajar sekaligus lokasi pemantauan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
“Taman kota seperti Tebet Eco Park bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga memiliki fungsi ekologis, sosial, dan edukatif. Pendataan biodiversitas penting dilakukan untuk mendukung monitoring dan evaluasi pembangunan berkelanjutan,” ujar Dolly kapada taktiknews.com, Selasa (23/12/2025)
Menurutnya, ruang terbuka hijau di perkotaan dapat berperan sebagai laboratorium alam, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang menekuni bidang biologi dan lingkungan. Keberadaan satwa liar juga menjadi indikator penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem kota.
Berdasarkan dokumen perencanaan keanekaragaman hayati Provinsi DKI Jakarta, kawasan Tebet Eco Park sebelumnya tercatat memiliki puluhan jenis fauna. Namun, data tersebut perlu terus diperbarui seiring dinamika lingkungan dan tekanan pembangunan kota.
Dalam kegiatan lapangan yang berlangsung pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, para peserta berhasil mencatat 20 jenis burung, 1 jenis amfibi, dan 8 jenis reptil. Salah satu temuan penting adalah burung betet biasa (Psittacula alexandri) yang termasuk satwa dilindungi nasional.
Selain itu, berdasarkan Daftar Merah IUCN, burung betet biasa berstatus Near Threatened (NT) atau hampir terancam punah, sementara burung kerak kerbau (Acridotheres javanicus) tercatat berstatus Vulnerable (VU) atau rentan terhadap kepunahan.
Para narasumber juga menekankan bahwa burung, amfibi, dan reptil memiliki peran strategis dalam ekosistem, mulai dari penyebaran biji, pengendalian hama alami, hingga berfungsi sebagai bioindikator kualitas lingkungan.
Di sisi lain, pesatnya pembangunan perkotaan menjadi tantangan serius bagi kelangsungan hidup satwa liar. Ancaman seperti kehilangan habitat, pencemaran, perubahan iklim, serta perburuan ilegal masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Kegiatan Belantara Biodiversity Class ini diikuti oleh 70 siswa dari 30 SMA dan sederajat yang berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang. Para peserta dibekali pengetahuan dasar identifikasi satwa serta praktik langsung di lapangan.
Melalui kegiatan ini, Belantara Foundation berharap kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian biodiversitas perkotaan semakin meningkat, sekaligus mendorong lahirnya agen-agen lingkungan yang peduli terhadap keberlanjutan ekosistem di tengah kota.***













