Banner Website
Nasional

BRIN dan University of Queensland Jajaki Riset Bersama, Fokus Isu Strategis Asia-Pasifik

24
×

BRIN dan University of Queensland Jajaki Riset Bersama, Fokus Isu Strategis Asia-Pasifik

Sebarkan artikel ini
BRIN dan University of Queensland Jajaki Riset Bersama
Logo BRIN BRIN. (Taktiknews/AI)

Taktiknews.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka babak baru kolaborasi global dengan menggandeng The University of Queensland (UQ), Australia, dalam penguatan riset sosial dan humaniora lintas negara. Inisiatif ini diarahkan untuk memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kualitas dan dampak riset nasional.

Langkah awal kerja sama tersebut ditandai melalui pertemuan daring yang mempertemukan Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN dengan jajaran akademisi UQ. Forum ini dimanfaatkan sebagai ruang pengenalan kelembagaan sekaligus penjajakan peluang kolaborasi riset dan skema pendanaan bersama.

Pelaksana Tugas Kepala OR IPSH BRIN, Muhammad Najib Azca, menekankan bahwa kemitraan global menjadi kunci dalam menjawab kompleksitas tantangan sosial saat ini.

“Pertemuan ini menjadi ruang untuk saling mengenal, berbagi pengetahuan, sekaligus mengeksplorasi peluang kolaborasi yang bermanfaat bagi kedua institusi,” ujar Najib Azca, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Sabtu (11/4/2026).

Dalam pemaparannya, Najib menjelaskan kapasitas riset OR IPSH, mulai dari fokus kajian, kekuatan sumber daya peneliti, hingga program yang sedang berjalan. Di sisi lain, Associate Dean (Research) Faculty of Humanities, Arts, and Social Sciences UQ, Kim Wilkins, memaparkan keunggulan riset institusinya serta peluang sinergi yang bisa dikembangkan bersama BRIN.

Pertemuan ini juga dihadiri sejumlah akademisi UQ seperti Zane Goebel, Greta Nabbs-Keller, Melissa Curley, dan Ian Hardy. Dari pihak BRIN, para kepala pusat riset dan peneliti lintas disiplin turut terlibat untuk mengidentifikasi potensi kolaborasi.

Sejumlah isu strategis muncul sebagai fokus kerja sama, mencakup dinamika politik lokal, keamanan maritim kawasan, kebijakan pendidikan, komunikasi dan budaya, hingga berbagai persoalan sosial kontemporer di kawasan Asia-Pasifik. Kedua institusi juga menyoroti pentingnya skema pendanaan bersama guna memastikan keberlanjutan riset kolaboratif.

Melissa Curley menilai kerja sama ini membuka peluang besar, khususnya dalam isu hak asasi manusia di kawasan regional.

“Kami percaya kolaborasi ini akan semakin memperkuat hubungan antar universitas, termasuk melalui jejaring alumni yang telah berkontribusi di berbagai sektor,” ujarnya.

Sementara itu, Ian Hardy menekankan pentingnya penguatan kolaborasi di sektor pendidikan tinggi, termasuk mobilitas mahasiswa dan pengembangan kebijakan yang inklusif.

“Kami berharap lebih banyak mahasiswa Indonesia dapat memperoleh pengalaman akademik di UQ melalui kolaborasi ini,” jelasnya.

Pertemuan berdurasi satu jam tersebut ditutup dengan komitmen kedua pihak untuk menindaklanjuti pembahasan ke tahap implementasi. Bentuk kerja sama yang direncanakan meliputi riset bersama, pertukaran akademisi, hingga pengembangan program kemitraan internasional.

Kolaborasi antara BRIN dan University of Queensland diharapkan mampu memperkuat kapasitas riset sosial dan humaniora, sekaligus menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang inklusif dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan global.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *