Banner Website
Daerah

Zapin dan Identitas Melayu: Warisan Islam yang Terancam Tergerus Zaman

67
×

Zapin dan Identitas Melayu: Warisan Islam yang Terancam Tergerus Zaman

Sebarkan artikel ini
Zapin dan Identitas Melayu: Warisan Islam yang Terancam Tergerus Zaman
Zapin dan Identitas Melayu: Warisan Islam. (Taktiknews/Mc)

Taktiknews.com, Pekanbaru – Zapin dan Identitas Melayu: Warisan Islam yang Terancam Tergerus Zaman di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya populer global. Tarian tradisional ini bukan sekadar hiburan, tetapi simbol sejarah, spiritualitas, serta perjalanan panjang peradaban masyarakat Melayu yang berakar kuat pada nilai Islam.

Zapin lahir di tanah melayu proses dari pertemuan budaya yang terjadi ratusan tahun lalu, khususnya di lingkungan Kesultanan Siak. Kala itu, interaksi antara bangsawan Melayu dan pendatang Arab menjadi pintu masuk lahirnya sebuah ekspresi seni yang kemudian menyebar luas ke tengah masyarakat.

Ketua Dewan Kepemimpinan Harian Badan Adat Melayu Riau (LAM), Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, mengatakan Zapin tidak dapat dipisahkan dari sejarah masuk dan perkembangan Islam di kepulauan ini.

“Zapin hadir bersamaan dengan kedatangan delegasi Arab ke kepulauan ini. Dari situlah nilai-nilai Islam berbaur dengan budaya Melayu dan bertahan hingga saat ini,” kata Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, Sabtu (10/01/2026) kepada Taktiknews.com .

Menurutnya, Zapin tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Justru seiring perjalanan waktu, tarian ini tumbuh melalui proses akulturasi yang alami, tanpa menghilangkan identitas dasarnya. Unsur Arab berpadu dengan adat dan kearifan lokal Melayu, melahirkan seni yang khas dan sarat makna.

โ€œPengaruh Arab sangat kuat, tetapi kemudian berbaur dengan budaya Melayu. Hasilnya adalah kreativitas seni yang bernafaskan Islam dan tetap berpijak pada nilai lokal,โ€ jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau, Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf, menilai Zapin lebih dari sekadar pertunjukan tari. Ia menyebut Zapin sebagai representasi karakter orang Melayu yang lembut namun berprinsip kuat.

โ€œZapin adalah cerminan identitas budaya Melayu. Gerakannya halus, tetapi ritmenya tegas. Itu menggambarkan sikap orang Melayu yang santun namun kokoh dalam prinsip,โ€ katanya.

Gerakan Zapin yang mengalir lembut, berpadu dengan hentakan kaki yang dinamis, menjadi simbol keseimbangan antara kehalusan budi dan keteguhan pendirian. Nilai-nilai tersebut diwariskan bukan lewat pidato panjang, melainkan melalui bahasa tubuh dan irama musik.

โ€œOrang Melayu itu lembut dalam sikap, tetapi tegas dalam prinsip. Zapin merekam filosofi hidup itu,โ€ ungkap Datuk Seri Raja Marjohan.

Ia menambahkan bahwa setiap pertunjukan Zapin benar-benar merupakan ruang belajar yang hidup. Penonton tidak hanya menikmati seni, tetapi juga menyerap nilai-nilai kesopanan, kebersamaan, adat istiadat, dan agama yang terkandung di dalamnya.

โ€œZapin memiliki fungsi edukatif lintas generasi. Ia mengajarkan sejarah, budaya, dan nilai hidup dengan cara yang sehat dan inspiratif,โ€ terangnya.

Namun di tengah tantangan zaman yang kerap menggeser budaya lokal, Zapin menghadapi ancaman redup jika tidak dirawat secara serius. Karena itu, pelestarian Zapin tidak boleh berhenti pada acara seremonial semata.

Datuk Seri Raja Marjohan mendorong agar Zapin terus dihidupkan di ruang publik, sekolah, sanggar seni, hingga sektor pariwisata, agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

โ€œMenjaga Zapin berarti menjaga marwah budaya Melayu. Identitas itu tidak cukup diwarisi, tetapi harus dirawat, dipahami, dan dibanggakan dari generasi ke generasi,โ€ tegasnya.

Sebagai catatan, istilah Zapin berasal dari bahasa Arab, seperti zafin yang berarti langkah, zaf sebagai alat musik berdawai, serta al-zafn yang merujuk pada gerakan mengangkat kaki. Pada mulanya, Zapin hanya ditarikan oleh dua laki-laki secara berpasangan. Namun kini, Zapin berkembang menjadi tarian inklusif yang dapat dibawakan oleh penari laki-laki maupun perempuan.

Di tengah perubahan zaman, Zapin tetap berdiri sebagai pengingat bahwa modernitas tidak harus menghapus akar budaya. Justru dari warisan inilah jati diri Melayu menemukan kekuatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *