Banner Website
Peristiwa

Riau Membara: Ribuan Hektare Lahan Hangus, Manggala Agni Bertaruh Nyawa di Garis Depan

49
×

Riau Membara: Ribuan Hektare Lahan Hangus, Manggala Agni Bertaruh Nyawa di Garis Depan

Sebarkan artikel ini
Riau Membara: Ribuan Hektare Lahan Hangus, Manggala Agni Bertaruh Nyawa di Garis Depan
Petugas Dalkarhut masih berjibaku padamkan kebakaran hutan di Riau. (Taktiknews/Mcr)

Taktiknews.com, Pekanbaru – Langit Bumi Lancang Kuning kembali berselimut kelabu. Memasuki akhir Maret 2026, Provinsi Riau didera ujian tahunan yang kian mengganas: Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Ribuan hektare lahan telah berubah menjadi hamparan abu, sementara ratusan personel gabungan berjibaku melawan si jago merah yang tak kunjung jinak di bawah sengatan matahari khatulistiwa.

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, memaparkan data yang cukup menggetarkan pada Jumat (27/3/2026).

Berdasarkan intaian mata satelit yang dianalisis oleh kolaborasi Kemenhut, BRIN, dan KemenLh, luas lahan yang terpanggang sepanjang Januari hingga Februari 2026 saja sudah menembus angka 4.440,2 hektare.

Angka tersebut dipastikan akan melonjak tajam saat data bulan Maret dirilis secara resmi. Ferdian mengungkapkan bahwa intensitas kebakaran meningkat drastis dalam tiga pekan terakhir.

“Estimasi lapangan untuk periode 1 Maret hingga hari ini menunjukkan luasan kebakaran tambahan mencapai 1.317,3 hektare. Ini adalah area yang saat ini sedang dalam penanganan intensif tim darat. Angka pastinya baru akan kami validasi melalui citra satelit pada 1 April mendatang,” ujar Ferdian kepada Taktiknews.com.

Isu utama dalam krisis ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup warga.

Ferdian menegaskan bahwa strategi tempur di lapangan saat ini diprioritaskan untuk membentengi zona pemukiman.

“Kami tidak hanya memadamkan api di tengah hutan. Fokus utama operasi kami adalah memastikan api tidak merembet ke pemukiman warga dan fasilitas publik. Keselamatan nyawa manusia adalah hukum tertinggi dalam operasi ini,” tegasnya.

Berdasarkan laporan eksklusif operasi Manggala Agni per 26 Maret 2026, pertempuran melawan api tersebar di beberapa titik panas (hotspot) dengan tingkat kesulitan yang beragam.

Di Kota Dumai, tepatnya di Kelurahan Mundam dan Tanjung Palas, api masih berkuasa.

Personel dari berbagai daerah operasi (Daops) seperti Pekanbaru, Siak, bahkan bantuan dari Labuhan Batu Selatan, telah dikerahkan.

Alat berat terus bekerja membuat sekat bakar, namun angin kencang seringkali membuat api melompat melewati barikade yang dibuat.

Kondisi serupa terjadi di Desa Teluk Lecah, Kabupaten Bengkalis. Di sini, tim dihadapkan pada musuh tak terlihat, asap tebal yang membatasi jarak pandang hingga hanya beberapa meter, membuat operasi udara maupun darat menjadi sangat berisiko.

Titik paling kritis terpantau di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Pelalawan. Estimasi lahan yang terbakar di lokasi ini mencapai angka fantastis, yakni 806 hektare.

Masalah klasik kembali muncul kelangkaan sumber air. Meskipun pihak koperasi setempat telah mengerahkan alat berat untuk menggali embung darurat, kedalaman gambut yang terbakar membuat pemadaman memerlukan pasokan air yang masif.

Di tengah kabar buruk, ada sedikit angin segar dari Kabupaten Siak. Kebakaran seluas 23 hektare di Desa Tasik Betung dan Merempan Hilir dilaporkan sudah terkendali.

Saat ini, tim sedang melakukan tahap mopping up atau pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa di dalam tanah gambut yang bisa memicu kebakaran susulan.

Siklus karhutla di Riau seolah menjadi “tradisi” kelam yang sulit diputus. Meski teknologi satelit makin canggih dan koordinasi lintas instansi makin erat, tantangan alam tetap menjadi faktor penentu.

Lahan gambut yang mendominasi wilayah Riau memiliki karakteristik unik; api bisa merambat di bawah permukaan tanah hingga kedalaman beberapa meter.

“Memadamkan api di gambut itu seperti memadamkan api di tumpukan briket yang sangat besar. Di atas terlihat padam, di bawah masih membara. Itulah mengapa tahap pendinginan atau mopping up jauh lebih krusial dan memakan waktu lama,” tambah salah satu personel Manggala Agni di lapangan.

Selain faktor alam, Taktiknews.com menyoroti pentingnya penegakan hukum bagi korporasi maupun individu yang masih menggunakan metode bakar lahan untuk pembukaan lahan perkebunan.

Tanpa sanksi yang memberikan efek jera, anggaran miliaran rupiah untuk pemadaman hanya akan menjadi pengeluaran rutin yang sia-sia setiap tahunnya.

Saat ini, semua mata tertuju pada kalender April. Masyarakat berharap transisi musim tidak membawa kekeringan yang lebih ekstrem. Manggala Agni, bersama TNI, Polri, dan BPBD, tetap bersiaga penuh.

Mereka bekerja dalam shift yang melelahkan, jauh dari keluarga, menembus hutan demi memastikan Riau tidak kembali terisolasi karena kabut asap yang melumpuhkan ekonomi dan pendidikan.

“Kami terus memperkuat koordinasi. Menjelang puncak musim kemarau, kesiapsiagaan adalah kunci. Kami meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun, karena sekecil apa pun api saat ini, bisa menjadi bencana besar dalam hitungan jam,” pungkas Ferdian. ***

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *