Banner Website
Peristiwa

Harimau Sumatera Kembali Dekati Permukiman Warga Pelalawan, Konflik Satwa Jadi Alarm Serius

53
×

Harimau Sumatera Kembali Dekati Permukiman Warga Pelalawan, Konflik Satwa Jadi Alarm Serius

Sebarkan artikel ini
BBKSDA Pastikan Harimau Viral Berada di TN Zamrud Siak
Ilustrasi Harimau Sedang Menapak Tilas di Rumah Sendiri. (Taktiknews/Yw/Pikiran Ai)

Taktiknews.com, Pekanbaru – Ancaman konflik antara manusia dan satwa liar kembali mencuat di Riau. Seekor Harimau Sumatera dilaporkan kembali muncul di sekitar permukiman warga Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, lokasi yang sebelumnya juga menjadi titik kemunculan satwa dilindungi tersebut.

Kemunculan terbaru harimau itu terekam warga dan beredar luas di media sosial. Dalam video yang viral, harimau tampak berada di tepi kawasan hutan tidak jauh dari badan jalan, membuat warga yang melintas terkejut dan cemas.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau membenarkan laporan tersebut. Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan pihaknya menerima laporan baru dari masyarakat pada Rabu (28/1).

“Kami menerima informasi bahwa harimau kembali terlihat di lokasi yang hampir sama dengan kemunculan sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Ujang, sejak kemunculan awal sekitar sepekan sebelumnya, tim telah melakukan upaya pemantauan dan penghalauan menggunakan camera trap serta drone termal. Namun, harimau kembali terpantau muncul berdasarkan laporan warga.

“Kemunculan ini menunjukkan pergerakan satwa masih berada di sekitar area aktivitas manusia,” jelasnya.

Menindaklanjuti laporan tersebut, BBKSDA Riau kembali mengerahkan petugas ke lapangan untuk melakukan penanganan dan pemantauan intensif.

Sebelumnya, BBKSDA Riau juga menindaklanjuti video viral yang memperlihatkan dugaan anak harimau di wilayah yang sama. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menjelaskan bahwa hasil identifikasi tim di lapangan menunjukkan indikasi keberadaan lebih dari satu individu harimau.

“Diduga ini merupakan satu kelompok keluarga, terdiri dari induk dan anak yang masih berusia sekitar empat hingga lima bulan,” ungkap Supartono.

Ia menjelaskan, pada usia tersebut, anak harimau masih sangat bergantung pada induknya dan cenderung mengikuti pergerakan induk ke wilayah yang dianggap aman, meski berdekatan dengan permukiman.

Berdasarkan hasil pemetaan, lokasi kemunculan berada di perbatasan kawasan hutan yang merupakan bagian dari jalur pergerakan alami Harimau Sumatera. Jaraknya dengan permukiman warga diperkirakan hanya sekitar 200 hingga 300 meter.

Kondisi ini dinilai sangat rawan, baik bagi keselamatan manusia maupun kelangsungan hidup satwa.

Saat ini, tim gabungan yang terdiri dari BBKSDA Riau, TNI, Polri, pihak pengelola hutan (PBPH), serta masyarakat setempat terus melakukan pemantauan berkala. Fokus utama penanganan adalah menggiring harimau agar menjauh dari pemukiman dan kembali ke kawasan hutan yang lebih aman.

Selain upaya teknis, BBKSDA juga mengintensifkan edukasi kepada masyarakat. Warga diminta tidak merekam atau menyebarkan video penampakan harimau untuk menghindari kepanikan dan informasi yang menyesatkan.

“Masyarakat diminta tetap waspada, terutama saat pagi dan menjelang malam, mengamankan ternak, serta segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan harimau,” tegas Supartono.

Ia menambahkan, seluruh penanganan dilakukan dengan mengedepankan keselamatan manusia sekaligus perlindungan terhadap Harimau Sumatera sebagai satwa yang dilindungi.

“Tim akan tetap berada di lokasi sampai situasi benar-benar aman dan pergerakan satwa menjauh dari area aktivitas warga,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *