Taktiknews.com, Jakarta – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, meminta jajaran direksi segera menyiapkan langkah penyesuaian harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax dan produk sejenis, menyusul tren penurunan harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu terakhir.
Kepada awak media, Jumat (26/6/2026), Iriawan mengatakan dewan komisaris mendorong manajemen Pertamina untuk mengevaluasi harga jual BBM nonsubsidi agar selaras dengan perkembangan harga minyak global.
“Kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi, manajemen (Pertamina) untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak (mentah) dunia yang sudah mulai turun,” kata Iriawan.
Pada perdagangan Jumat pagi, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$71,533 per barel, sedangkan minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$74,835 per barel.
Iriawan menyebut usulan penyesuaian harga tersebut akan dibahas lebih lanjut bersama jajaran direksi Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelum diputuskan.
Sebagai informasi, berdasarkan harga BBM nonsubsidi di SPBU per 10 Juni 2026, Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax Turbo tetap di Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex bertahan di Rp24.800 per liter.
“Jadi kira-kira kami akan mendorong jajaran direksi untuk melakukan itu (penyesuaian harga BBM nonsubsidi). Yang pastinya nanti akan berkomunikasi dengan ESDM untuk bisa menurunkan harga minyak nanti,” ujar Iriawan.
Dari pantauan Taktiknews.com, hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai besaran maupun waktu penurunan harga BBM nonsubsidi. Pertamina masih akan melakukan evaluasi sesuai mekanisme yang berlaku.
Iriawan menegaskan penyesuaian harga tidak dapat dilakukan secara instan karena mempertimbangkan formula evaluasi berkala, termasuk harga minyak mentah pada periode sebelumnya.
“Ada prosedurnya ya, karena minyak yang sekarang ini proses (dari) bulan yang lalu, dengan harga yang lalu. Nah tentunya kalau turunnya kemarin, berapa hari yang lalu, kita akan menyesuaikan nanti,” kata Iriawan.
“Turunnya berapa (rupiah), nanti kita lihat ke depan. Tetapi Insyaallah, doakan, mudah-mudahan bisa turun sesuai dengan harapan masyarakat,” pungkasnya.***














