TAKTIKNEWS.COM – Ternak puyuh Pekanbaru mulai menunjukkan wajah baru. Bukan sekadar usaha warga, peternakan yang dikembangkan pengurus RT 01 RW 10, Kelurahan Sialangmunggu, Kecamatan Tuah Madani, ini diarahkan menjadi sumber pendapatan sekaligus penggerak kegiatan sosial masyarakat.
Ide tersebut lahir dari keberanian pengurus RT memanfaatkan lahan tidur yang selama ini belum produktif. Di atas lahan sekitar 30×50 meter, warga membangun kandang yang kini menampung sekitar 2.000 ekor puyuh petelur.
Gagasan itu digerakkan Ketua RT 01 RW 10, Soleman, bersama pengurus dan warga sejak dirinya terpilih pada akhir Maret 2026. Mereka tidak ingin menunggu terlalu lama untuk menjalankan program yang dinilai bisa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Konsep yang dikembangkan bahkan menyerupai pola badan usaha, di mana RT berupaya memiliki sumber pendapatan sendiri untuk mendukung kegiatan sosial, kepemudaan, keagamaan, hingga pemberdayaan ekonomi warga.
Program tersebut diberi nama BAPAKU RT, singkatan dari Bantuan Pangan, Kesejahteraan, Kesehatan dan UMKM. Program disusun dengan menyesuaikan kondisi sosial dan budaya masyarakat di lingkungan yang dihuni ratusan kepala keluarga tersebut.
Soleman mengatakan, pengurus tidak ingin program hanya berhenti pada perencanaan. Warga langsung dilibatkan dalam pengelolaan peternakan agar manfaat ekonominya dapat dirasakan bersama.
“Alhamdulillah, kita mulai start bulan Maret lalu. Kita mulai saat kondisi sedang ‘krisis’,” kata Soleman saat berbincang.
Krisis yang dimaksud terjadi ketika harga telur sedang mengalami penurunan. Saat itu, harga telur di Pekanbaru berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per papan.
Namun, kondisi tersebut justru tidak membuat kelompok peternak menyerah. Mereka melihat adanya peluang dari tingginya permintaan telur puyuh di Pekanbaru.
Kelompok tersebut bertahan hampir dua bulan menghadapi harga yang belum stabil. Perlahan, usaha mulai menunjukkan hasil.
Awalnya hanya 500 ekor, kini populasi puyuh petelur telah berkembang menjadi sekitar 2.000 ekor.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada sekitar 2.000 ekor. Dikelola oleh warga kita juga di sini,” kata Soleman menunjukkan kandang peternakannya.
Dengan populasi tersebut, pengurus RT optimistis peternakan puyuh dapat menjadi salah satu sumber pemasukan untuk mendukung berbagai kegiatan masyarakat di lingkungan Kompleks Trans Jasa Industri.
Namun, usaha tersebut tidak berhenti pada telur puyuh. Pengurus mulai merancang konsep usaha terintegrasi dengan mengembangkan sektor pertanian dan pengolahan limbah peternakan.
“Telur puyuh sekarang kita suplai ke UMKM sekitar. Ada juga kohe atau kotoran, setelah kami pelajari ini juga bisa menjadi peluang bisnis diolah jadi pupuk organik. Makanya ini kami sedang kembangkan tanam cabai,” katanya.
Konsep tersebut membuat aktivitas peternakan sekaligus membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lingkungan RT.
Pengelolaan peternakan juga melibatkan warga setempat. Soleman membagi pekerjaan mulai dari pengelolaan kandang hingga distribusi hasil produksi kepada pelaku UMKM.
“Untuk ABK kita manfaatkan warga sekitar, ada lansia juga. Kita ingin keberadaan dari ternak ini juga bisa memberi penghasilan tambahan selain manfaat sosial tadi,” kata pria yang akrab disapa Kang Leman.
Bagi Soleman, keberadaan unit usaha tersebut diharapkan membuat RT tidak selalu bergantung pada bantuan pihak lain ketika menjalankan kegiatan sosial, kepemudaan maupun keagamaan.
Konsep pemberdayaan juga mulai diperluas ke pemanfaatan barang bekas. Pengurus kini menyiapkan pola pertanian dengan memanfaatkan galon isi ulang bekas sebagai media tanam.
“Saat ini pertanian kita buat pot dari galon isi ulang bekas. Ini memanfaatkan barang bekas agar lebih bermanfaat,” kata Leman.
Menjelang pelantikan pengurus RT yang dijadwalkan berlangsung pada 9 September 2026 oleh Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, berbagai persiapan program terus dimatangkan.
Dari lahan yang sebelumnya tidak produktif, pengurus RT kini mencoba membangun ekosistem usaha yang menghubungkan peternakan, pertanian, UMKM, dan pemberdayaan warga.
Bagi mereka, keberhasilan program bukan semata dihitung dari jumlah puyuh yang terus bertambah, tetapi dari seberapa besar usaha tersebut mampu membuka peluang penghasilan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.***














