Banner Website
Peristiwa

Dapur Umum IPDN di Aceh Tamiang Dorong Pemulihan Ekonomi Warga Pascabencana

53
×

Dapur Umum IPDN di Aceh Tamiang Dorong Pemulihan Ekonomi Warga Pascabencana

Sebarkan artikel ini
Dapur Umum IPDN di Aceh Tamiang Dorong Pemulihan Ekonomi Warga Pascabencana
Dapur Umum IPDN mulai beroperasi sejak 4 Januari 2026, sehari setelah kedatangan gelombang awal praja IPDN ke Aceh Tamiang. (TN/MD)

Taktiknews.com, Aceh Tamiang – Di tengah proses pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra, kehadiran Dapur Umum Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di Aceh Tamiang tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan logistik personel Satuan Tugas (Satgas), tetapi juga memberi dampak nyata bagi perekonomian masyarakat setempat.

Dapur Umum IPDN mulai beroperasi sejak 4 Januari 2026, sehari setelah kedatangan gelombang awal praja IPDN ke Aceh Tamiang. Pada tahap awal, dapur melayani ratusan porsi makanan. Seiring bertambahnya personel praja dan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terlibat dalam Satgas, kapasitas pelayanan meningkat signifikan.

Sejak 5 Januari 2026, dapur umum beroperasi penuh dengan menyiapkan sebanyak 1.141 porsi makanan untuk setiap waktu makan, yakni sarapan, makan siang, dan makan malam.

Koordinator Dapur Umum IPDN, Purnomo, menjelaskan bahwa standar menu yang disajikan tetap mengacu pada sistem pelayanan gizi di lingkungan IPDN Jatinangor, dengan komposisi seimbang antara karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.

โ€œMenu kami disusun sesuai arahan pimpinan. Sarapan mencakup nasi, sayur, dan protein. Untuk makan siang dan malam ditambah lauk hewani, nabati, serta buah, agar kebutuhan gizi seluruh personel tetap terpenuhi,โ€ ujar Purnomo, Sabtu (17/1/2026).

Menariknya, hampir seluruh bahan pangan yang digunakan dapur umum diperoleh dari pasar-pasar lokal di Aceh Tamiang dan wilayah sekitarnya, seperti Langsa, Kuala Simpang, Pangkalan Brandan, hingga Medan. Mulai dari beras, ikan, sayur-mayur, buah, bumbu dapur, hingga minyak goreng dipasok dari pedagang dan petani setempat.

Langkah ini, kata Purnomo, merupakan bagian dari kebijakan untuk membantu menggerakkan ekonomi warga di daerah terdampak bencana.

โ€œKami diarahkan untuk memanfaatkan bahan dari masyarakat sekitar. Selain mendukung operasional dapur, ini juga menjadi upaya konkret menghidupkan ekonomi lokal di Aceh Tamiang dan sekitarnya,โ€ jelasnya.

Namun, pengelolaan dapur umum di lapangan bukan tanpa tantangan. Keterbatasan sarana, kebutuhan gas yang tinggi, fluktuasi harga bahan pokok, serta ketersediaan barang di pasar kerap memaksa tim dapur melakukan penyesuaian menu.

โ€œJika bahan tertentu sulit didapat, kami sesuaikan dengan potensi lokal. Misalnya saat kol, kentang, dan wortel terbatas, kami ganti dengan sayur pakis yang memang khas daerah sini. Alhamdulillah, tetap diterima oleh teman-teman Satgas,โ€ ungkap Purnomo.

Saat ini, operasional dapur umum didukung oleh 18 personel kru yang bekerja secara bergantian hampir tanpa jeda. Proses persiapan makan pagi bahkan sudah dimulai sejak pukul 22.00 WIB dan baru rampung menjelang subuh.

โ€œSekitar pukul 06.30 WIB, praja dan anggota Satgas sudah mulai mengambil jatah makan pagi dan snack. Tim kami kemudian langsung bersiap untuk kebutuhan makan berikutnya,โ€ tambahnya.

Keberadaan Dapur Umum IPDN di Aceh Tamiang menjadi contoh nyata bahwa penanganan bencana tidak hanya soal bantuan darurat, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *