Banner Website
BisnisEkonomi & Bisnis

BPS Warning Pemda: Waspadai Lonjakan Inflasi Pasca Lebaran 2026

30
×

BPS Warning Pemda: Waspadai Lonjakan Inflasi Pasca Lebaran 2026

Sebarkan artikel ini
BPS Warning Pemda Waspadai Lonjakan Inflasi Pasca Lebaran 2026
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono. (Taktiknews/Mcr)

Taktiknews.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) meminta pemerintah daerah (Pemda) di seluruh Indonesia untuk memperkuat antisipasi inflasi pasca Lebaran guna mencegah lonjakan harga yang tak terkendali. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menekankan pentingnya kewaspadaan meski secara historis angka inflasi setelah hari raya cenderung lebih rendah dibandingkan periode Ramadhan.

Berdasarkan data empat tahun terakhir, tingkat inflasi pasca Lebaran biasanya melandai, kecuali pada tahun 2022. Namun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap mendominasi andil inflasi. Ateng menyoroti fenomena pada April 2025 lalu, di mana penyesuaian tarif listrik dan perawatan pribadi menjadi motor penggerak kenaikan indeks harga.

“Pada April 2025 bertepatan dengan pasca lebaran, inflasi pada April 2005 disumbang oleh kelompok perumahan, air listrik dan bahan bakar rumah tangga. Penyesuaian tarif listrik kembali normal, kelompok makanan minuman dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Inflasi pasca lebaran ini perlu diantisipasi,” tegas Ateng dalam Rakor Pengendalian Inflasi melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (20/4/2026).

BPS mencatat pola komoditas yang konsisten memicu inflasi dari tahun ke tahun. Pada 2022, cabai merah, bawang merah, hingga tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama. Sementara pada 2023, daftar tersebut bertambah dengan daging ayam ras dan rokok kretek filter. Memasuki 2024, emas perhiasan dan bawang putih mulai menunjukkan tren kenaikan harga yang signifikan.

“Pada momen pasca lebaran, komoditas yang sering muncul sebagai penyumbang inflasi tertinggi adalah bawang merah, cabai merah, telur ayam ras dan bawang putih, sedangkan komoditas yang sering muncul sebagai penyumbang deflasi terdalam adalah daging ayam ras,” ungkap Ateng.

Data tahun 2025 menunjukkan pergeseran, di mana tarif listrik, emas perhiasan, serta beberapa jenis buah-buahan seperti jeruk dan kelapa ikut mendorong inflasi. Sebaliknya, bensin dan daging ayam ras justru sering kali mengalami deflasi atau penurunan harga pasca hari raya. Dengan memetakan komoditas-komoditas sensitif ini, Pemda diharapkan mampu melakukan intervensi pasar secara tepat sasaran.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *