Taktiknews.com, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memperoleh dukungan pendanaan internasional untuk pengembangan energi panas bumi setelah tiga proyek strategisnya masuk dalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas.
Masuknya proyek ke dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 tersebut membuka peluang pembiayaan luar negeri senilai US$477,87 juta atau sekitar Rp7,8 triliun untuk mendukung pengembangan kapasitas energi panas bumi nasional.
Tiga proyek yang masuk dalam Green Book 2026 meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW, serta PLTP Lahendong Unit 7–8 berkapasitas 50 MW.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan pencapaian tersebut menjadi pengakuan atas kesiapan proyek-proyek Perseroan untuk memasuki tahap pengembangan berikutnya sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor panas bumi Indonesia.
“Kami melihat kinerja positif yang dibukukan Perseroan semakin memperkuat kepercayaan berbagai investor terhadap prospek bisnis dan pengembangan proyek-proyek PGE. Selain membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional yang dapat mendukung percepatan realisasi proyek, pencapaian ini juga meningkatkan visibilitas dan daya tarik proyek-proyek Perseroan di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global,” ujar Ahmad Yani.
Menurutnya, dukungan pendanaan internasional tersebut akan membantu menjaga struktur pembiayaan yang sehat sekaligus meningkatkan keekonomian proyek dalam jangka panjang.
“Selain membantu menjaga struktur pendanaan yang sehat dan mempertahankan cost of debt yang kompetitif, masuknya ketiga proyek ini juga berpotensi meningkatkan keekonomian proyek sehingga dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi Perseroan dan para pemangku kepentingan,” katanya.
Pendanaan untuk ketiga proyek tersebut berasal dari skema concessional loan atau pinjaman lunak melalui mekanisme on-lending. Rinciannya, PLTP Lumut Balai Unit 3 memperoleh alokasi pembiayaan sebesar US$158,86 juta dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan target operasi komersial (COD) pada 2030.
Selanjutnya, PLTP Lumut Balai Unit 4 yang ditargetkan beroperasi pada 2032 mendapatkan alokasi US$148,97 juta dari JICA. Sementara PLTP Lahendong Unit 7–8 di Sulawesi Utara memperoleh dukungan pembiayaan sebesar US$170,04 juta dari World Bank dengan target COD pada 2030.
Masuknya proyek-proyek tersebut ke Green Book 2026 melanjutkan capaian sebelumnya setelah ketiganya lebih dahulu tercantum dalam Blue Book Bappenas 2025–2029 yang menandakan kesiapan dari aspek teknis, finansial, lingkungan, dan kelembagaan.
Di sisi lain, PGE juga mencatatkan kinerja keuangan yang positif pada kuartal pertama 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$43,90 juta atau tumbuh 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$31,35 juta.
Pendapatan perusahaan juga meningkat 14,8 persen menjadi US$116,56 juta dibandingkan US$101,50 juta pada kuartal pertama 2025.
Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan produksi listrik yang terus mencatat tren positif. Sepanjang 2025, PGE membukukan produksi tertinggi sepanjang sejarah mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), naik 5,55 persen dibandingkan 4.827 GWh pada 2024. Tren itu berlanjut pada kuartal I-2026 dengan produksi listrik mencapai 1.370 GWh atau meningkat 15,22 persen secara tahunan.
Ketiga proyek panas bumi tersebut merupakan bagian dari roadmap pengembangan kapasitas panas bumi PGE hingga 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek tersebut diharapkan memperkuat pasokan listrik rendah emisi sekaligus mendukung target transisi energi nasional.
“Kami meyakini bahwa setiap pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi rendah karbon, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang luas melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi lokal, dan penguatan ekosistem industri dalam negeri,” ujar Ahmad Yani.***














