Banner Website
BisnisEkonomi & Bisnis

Percepatan Blok Masela Jadi Benteng Energi Nasional di Tengah Gejolak Global

18
×

Percepatan Blok Masela Jadi Benteng Energi Nasional di Tengah Gejolak Global

Sebarkan artikel ini
Percepatan Blok Masela Jadi Benteng Energi Nasional di Tengah Gejolak Global
Proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela di Laut Arafura, lepas pantai Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya, Maluku. (Taktiknews/ Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi)

Taktiknews.com, Jakarta – Pemerintah mempercepat pengembangan Blok Masela di Maluku sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan energi dan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha Widya Putra, menegaskan proyek Lapangan Abadi yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) kini telah memasuki tahap pembangunan fisik sejak Februari 2026.

“Momentum ini ditandai dengan dimulainya pembangunan fisik pada Februari lalu, sebuah bukti nyata proyek ini telah bergeser dari sekadar wacana administratif menjadi aksi nyata di lapangan,” ujar Hangga melalui keterangan resmi, Sabtu (11/4/2026).

Ia menilai percepatan proyek tersebut semakin mendesak seiring meningkatnya tensi geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan energi dunia, khususnya Selat Hormuz.

Kondisi itu mendorong lonjakan harga minyak mentah global hingga mencapai sekitar 110 dolar AS per barel, yang pada akhirnya menekan neraca perdagangan Indonesia akibat tingginya ketergantungan pada impor energi.

Menurut Hangga, pengembangan Blok Masela akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat pasokan energi domestik secara berkelanjutan.

Blok ini diproyeksikan mampu memproduksi hingga 9,5 juta ton per tahun (MTPA) liquefied natural gas (LNG), 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel minyak kondensat.

Kemajuan proyek juga ditandai dengan kerja sama antara Inpex dan PT Pertamina (Persero) yang telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada 30 Maret 2026.

Pemerintah pun menetapkan skema distribusi produksi untuk menjaga keseimbangan antara aspek komersial dan kebutuhan dalam negeri.

“Pemerintah menetapkan skema alokasi berimbang, yakni 60 persen untuk pasar ekspor guna menjamin keekonomian proyek dan 40 persen tetap dialokasikan untuk kebutuhan domestik” katanya.

Selain aspek energi, proyek ini juga diyakini akan memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat Maluku. Pemerintah memastikan adanya keterlibatan daerah melalui pemberian hak kelola participating interest (PI) sebesar 10 persen kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Pengembangan Blok Masela juga diproyeksikan membuka lapangan kerja dalam jumlah besar serta mendorong transfer teknologi di sektor energi.

Hangga menegaskan, koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah akan terus diperkuat agar proyek ini berjalan optimal dan memberikan manfaat luas.

Ia berharap Blok Masela tidak hanya menjadi proyek energi, tetapi juga penggerak utama pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *