Banner Website
BisnisEkonomi & Bisnis

GAPKI Soroti Peran Peneliti Serangga Penyerbuk, Fondasi Produktivitas Sawit Nasional

16
×

GAPKI Soroti Peran Peneliti Serangga Penyerbuk, Fondasi Produktivitas Sawit Nasional

Sebarkan artikel ini
GAPKI Soroti Peran Peneliti Serangga Penyerbuk
Direktur Perbenihan Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Ebi Rulianti, menyerahkan penghargaan Lifetime Achievement kepada Dr. Edwin Lubis yang mewakili Dr. Adlin Lubis. (TN/SI)

Taktiknews.com, Sumut – Isu produktivitas industri kelapa sawit kembali mengemuka seiring upaya menjaga posisi Indonesia sebagai produsen terbesar dunia. Di balik capaian tersebut, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menegaskan peran krusial inovasi ilmiah, khususnya introduksi serangga penyerbuk sejak 1982, sebagai fondasi utama peningkatan produksi nasional.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memberikan penghargaan Lifetime Achievement kepada empat tokoh peneliti yang dinilai berjasa besar dalam sejarah industri sawit. Penghargaan itu diserahkan dalam kegiatan pelepasan serangga penyerbuk di Kebun PPKS Marihat, Sumatera Utara, Kamis (9/4/2026).

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan bahwa kontribusi para peneliti tersebut tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga menentukan arah pertumbuhan industri sawit nasional selama puluhan tahun.

“Kami menganugerahkan Lifetime Achievement kepada empat peneliti yang berperan penting bagi introduksi pertama serangga penyerbuk pertama di Indonesia. Mereka adalah pahlawan di balik perkembangan penting industri sawit nasional,” ujar Eddy Martono.

Empat tokoh yang menerima penghargaan tersebut adalah Adlin U. Lubis, Desmier de Chenon, Alimin Sipayung, dan Sudharto Ps. Mereka dikenal sebagai pelopor dalam menghadirkan serangga penyerbuk ke Indonesia yang kemudian menjadi game changer dalam sistem produksi sawit.

Penghargaan untuk Adlin U. Lubis diwakili oleh putranya, Edwin Lubis, yang menyampaikan pesan khusus dari sang ayah.

”Salam dari ayah kami Dr. Adlin Lubis kepada Bapak/ibu mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu sekalian atas penghargaan dari GAPKI ini. Pesan beliau, tetap semangat dan terus berinovasi bagi industri sawit yang baik dan berkelanjutan,” ujarnya.

Momentum ini juga menjadi ajang refleksi sejarah panjang riset sawit di Indonesia. Desmier de Chenon, yang dikenal sebagai pakar entomologi internasional, mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang menjadi lokasi kegiatan.

”Memori saya kembali ke 40 tahun lalu di mana pernah tinggal dan melakukan riset sangat lama di sini (PPKS), tambah Desmier yang terbang dari Melbourne, Australia.

GAPKI menilai keberhasilan introduksi serangga Elaeidobius kamerunicus dari Afrika menjadi titik balik penting dalam industri sawit. Sebelum inovasi tersebut, proses penyerbukan masih bergantung pada metode manual yang tidak efisien dan membatasi produktivitas.

Dengan hadirnya serangga penyerbuk alami, sistem reproduksi tanaman sawit menjadi jauh lebih optimal. Dampaknya terlihat pada peningkatan berat tandan buah serta lonjakan produksi secara signifikan di berbagai wilayah perkebunan.

Eddy Martono menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan hasil instan, melainkan buah dari keberanian ilmiah dan visi jangka panjang para peneliti.

“Jika hari ini kita berbicara tentang masa depan, maka para beliau telah lebih dahulu membangunnya sejak lebih dari empat dekade yang lalu,” ujarnya.

Ia menambahkan, penghargaan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk pengakuan nyata terhadap kontribusi yang masih dirasakan hingga saat ini, baik oleh perusahaan besar maupun jutaan petani sawit di Indonesia.

Menurutnya, tanpa inovasi tersebut, sulit membayangkan Indonesia mampu mencapai posisi sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia seperti sekarang.

Lebih jauh, GAPKI menilai tantangan industri sawit ke depan semakin kompleks, mulai dari isu keberlanjutan, tekanan global, hingga tuntutan efisiensi produksi. Oleh karena itu, semangat riset dan inovasi dinilai harus terus diperkuat.

“GAPKI berharap dedikasi keempat tokoh ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi peneliti muda untuk terus berinovasi demi keberlanjutan industri sawit di masa depan,” pungkasnya.

Dengan menyoroti kembali peran strategis riset penyerbukan, industri sawit diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi menghadapi dinamika global sekaligus menjaga kontribusinya terhadap perekonomian nasional.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *