TANGGAMUS,TAKTIKNEWS.COM — Musim kemarau biasanya membawa dua pekerjaan rumah sekaligus: menjaga lahan tetap aman dan menjaga agar api tidak berubah menjadi masalah yang lebih besar. Karena sekali api lepas kendali, urusannya bukan lagi sekadar memadamkan, tetapi menyangkut lingkungan, kesehatan, hingga aktivitas masyarakat.
Karena itu, langkah pencegahan menjadi jauh lebih penting daripada menunggu kebakaran terjadi.
Hal tersebut menjadi perhatian Kodim 0424/Tanggamus bersama Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI yang turun langsung ke wilayah Kabupaten Tanggamus dan Pringsewu untuk memperkuat upaya pencegahan serta penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI dipimpin Kolonel CPM Tri Handaka, S.Pd., M.Si., melaksanakan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Tanggamus dan Pemerintah Kabupaten Pringsewu pada Jumat (28/8/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dandim 0424/Tanggamus Letkol Inf Dwi Djunaidi Mulyono, S.E., M.I.P., bersama jajaran, serta sejumlah unsur pemerintah daerah, antara lain Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Kesbangpol.
Tim Penyuluh Mabes TNI selanjutnya akan berada di wilayah Tanggamus selama kurang lebih 30 hari. Bukan sekadar datang, berdiskusi, lalu pulang, tim tersebut akan melaksanakan penyuluhan, asistensi dan pendampingan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman Karhutla.
Dandim 0424/Tanggamus Letkol Inf Dwi Djunaidi Mulyono menyebut kehadiran Tim Penyuluh Mabes TNI sebagai langkah positif dalam memperkuat sinergi pencegahan Karhutla.
Menurutnya, sejumlah titik panas sempat terpantau melalui sistem pemantauan hotspot. Namun setelah dilakukan pengecekan di lapangan, terdapat titik yang diduga berkaitan dengan aktivitas masyarakat, salah satunya pembakaran sampah.
Di sinilah persoalannya. Kebiasaan yang dianggap sederhana bisa saja menjadi pemicu persoalan yang jauh lebih besar, terutama ketika kondisi cuaca sedang kering.
“Hal itu perlu kita berikan edukasi dan penyuluhan kepada warga agar jangan dilakukan, terutama di musim-musim kemarau seperti ini,” ujar Dandim.
Penyuluhan pun tidak akan berhenti di tingkat kabupaten. Sasaran kegiatan akan diperluas hingga kecamatan dan pekon, terutama wilayah yang dinilai memiliki kerawanan terhadap Karhutla.
Masyarakat, termasuk generasi muda, akan diberikan pemahaman mengenai bahaya Karhutla, bagaimana mencegahnya, mengenali tanda-tanda awal kebakaran, hingga langkah yang perlu dilakukan ketika menemukan potensi kebakaran.
Pendekatan seperti ini menjadi penting. Sebab pencegahan Karhutla tidak mungkin hanya dibebankan kepada TNI, BPBD atau pemadam kebakaran. Petugas bisa bergerak cepat ketika mendapat laporan, tetapi masyarakat adalah pihak yang paling dekat dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Kodim 0424/Tanggamus juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan. Jika menemukan potensi kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya agar dapat ditangani sedini mungkin.
Pada akhirnya, pencegahan Karhutla bukan soal siapa yang paling cepat datang membawa selang atau kendaraan pemadam. Jauh sebelum itu, persoalannya adalah bagaimana semua pihak bisa mencegah api muncul dan memastikan masyarakat memahami risikonya.
Sinergi antara TNI, pemerintah daerah, BPBD, pemadam kebakaran, pemerintah kecamatan dan pekon, serta masyarakat menjadi bagian penting untuk menjaga wilayah Tanggamus dan Pringsewu tetap aman dari ancaman Karhutla. (Fery)














