TAKTIKNEWS.COM – Pembangunan desa kerap kali hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi justru bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Salah satunya pembangunan gorong-gorong plat di Jalan Hi Ojo, Pekon Siliwangi, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, yang direalisasikan melalui pemanfaatan Dana Desa sisa anggaran tahun 2025 atau Silpa.
Infrastruktur tersebut berada pada akses lingkungan yang menghubungkan wilayah Dusun 3 menuju Dusun 4 Pekon Siliwangi. Bagi masyarakat setempat, keberadaan akses penghubung semacam ini memiliki arti praktis dalam menunjang mobilitas serta aktivitas warga sehari-hari.
Berdasarkan papan informasi kegiatan yang terpasang di lokasi, pembangunan gorong-gorong plat tercantum sebagai kegiatan Program Dana Desa Silpa Tahun 2025 Pekon Siliwangi. Pekerjaan tersebut memiliki volume 7 x 1,20 x 0,15 meter, dilaksanakan oleh TPBJ, dengan nilai anggaran sebesar Rp4.392.000. Adapun waktu pelaksanaan tercantum pada Tahun 2026.
Kaur Kesra Pekon Siliwangi, Sumpena, mengatakan pembangunan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama dalam mendukung akses lingkungan yang digunakan warga dari Dusun 3 menuju Dusun 4.
Menurut Sumpena, pembangunan infrastruktur tidak selalu harus diukur dari besar kecilnya nilai anggaran. Lebih dari itu, ukuran keberhasilannya dapat dilihat dari seberapa jauh fasilitas tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana pembangunan ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Jalan dan saluran penghubung merupakan bagian dari kebutuhan lingkungan yang digunakan warga setiap hari, sehingga keberadaannya harus mendukung kelancaran aktivitas masyarakat,” ujar Sumpena.
Ia menjelaskan, pemanfaatan anggaran desa pada prinsipnya diarahkan berdasarkan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Karena itu, setiap program pembangunan diharapkan tidak berhenti sebagai pekerjaan fisik semata, melainkan memiliki manfaat yang dapat dirasakan warga sekaligus menjadi bagian dari peningkatan kualitas infrastruktur pekon secara bertahap.
Pembangunan gorong-gorong tersebut juga diharapkan mampu menjaga fungsi akses lingkungan, khususnya pada bagian yang membutuhkan sarana penyeberangan maupun saluran air sehingga aktivitas masyarakat tetap dapat berlangsung dengan baik.
“Harapannya, setelah dibangun, akses masyarakat menjadi lebih mudah dan aman. Kami juga berharap masyarakat ikut menjaga hasil pembangunan ini agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.
Jika dilihat dari skalanya, pembangunan gorong-gorong plat di Jalan Hi Ojo memang bukan pekerjaan infrastruktur dengan nilai anggaran besar. Namun, dalam perspektif pembangunan desa, ukuran sebuah program tidak semata-mata berada pada nominal anggarannya.
Ada kalanya sebuah infrastruktur sederhana justru memiliki nilai strategis karena berada di jalur yang digunakan masyarakat setiap hari. Sebuah gorong-gorong, misalnya, dapat menjadi bagian kecil dari sistem akses lingkungan yang menghubungkan satu permukiman dengan permukiman lainnya.
Dalam konteks tersebut, pemanfaatan Dana Desa Silpa menjadi bagian dari proses pengelolaan anggaran yang diarahkan kembali kepada kebutuhan pembangunan masyarakat. Kehadiran papan informasi di lokasi juga menjadi unsur penting dalam memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai jenis kegiatan, volume pekerjaan, pelaksana, nilai anggaran, serta waktu pelaksanaan.
Transparansi semacam itu menjadi bagian dari tata kelola pemerintahan pekon yang sehat. Masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga memiliki ruang untuk mengetahui bagaimana program pembangunan direncanakan dan dilaksanakan.
Pada akhirnya, pembangunan di tingkat pekon memang sering kali berjalan melalui langkah-langkah kecil. Namun, apabila dilakukan secara terarah, terbuka, dan berdasarkan kebutuhan warga, langkah kecil tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun lingkungan yang lebih terhubung dan menunjang aktivitas masyarakat.
Pembangunan gorong-gorong plat di Jalan Hi Ojo menjadi salah satu gambaran sederhana bahwa pembangunan desa tidak selalu berbicara mengenai proyek besar. Terkadang, pembangunan justru menemukan maknanya ketika sebuah fasilitas sederhana mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tempat ia berada. ( Fery)














