TAKTIKNEWS.COM – Kualitas udara Pekanbaru pada Senin (24/8/2026) berada pada kategori tidak sehat. Data pukul 11.00 WIB mencatat indeks kualitas udara (AQI) mencapai 165 AQI US dengan PM2.5 sebagai polutan utama.
Konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 75,8 µg/m³. Pada waktu yang sama, suhu udara Pekanbaru berada di sekitar 34 derajat Celsius, dengan kecepatan angin 7 kilometer per jam dan kelembapan 46 persen.
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru meniadakan pembelajaran tatap muka. Siswa untuk sementara mengikuti kegiatan belajar mengajar secara daring.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Pekanbaru, Tekad Abidin, meminta Dinas Pendidikan (Disdik) terus memantau perkembangan kualitas udara sebelum memutuskan kembali pembelajaran secara offline.
“Jika sudah tidak membahayakan bagi anak-anak baru diperbolehkan untuk sekolah offline,” kata Tekad.
Menurutnya, pelaksanaan pembelajaran daring juga harus mendapat pengawasan agar kualitas pendidikan tetap terjaga. Disdik diminta memastikan proses belajar siswa tetap berjalan optimal selama kebijakan tersebut diterapkan.
Di sisi lain, Tekad meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Pekanbaru meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kepada Dinkes sudah mulai untuk melakukan persiapan antisipasi lonjakan ISPA, bisa juga sudah mulai untuk membagikan masker gratis dan menyampaikan, menyosialisasikan di Puskesmas agar masyarakat tidak beraktivitas di luar ruangan selama tingkat kualitas udara belum bagus,” jelasnya.
Ia juga mendorong Dinkes memperbarui informasi kualitas udara secara rutin dan menyampaikannya kepada masyarakat. Informasi tersebut dinilai penting agar warga dapat mengambil langkah pencegahan sebelum terjadi peningkatan kasus gangguan pernapasan.
“Dan diharapkan kepada Dinkes agar dapat setiap hari melakukan update bagaimana kondisi kualitas udara di Pekanbaru,” jelasnya.
Tekad menilai pemantauan kondisi udara perlu dilakukan secara konsisten, terutama ketika kualitas udara berada pada level yang dapat berdampak terhadap kelompok rentan seperti anak-anak.***














