Banner Website
Daerah

Kasus HIV di Riau Tembus 11.336, Pekanbaru Dominasi Lebih dari 58 Persen

16
×

Kasus HIV di Riau Tembus 11.336, Pekanbaru Dominasi Lebih dari 58 Persen

Sebarkan artikel ini
Kasus HIV di Riau Tembus 11.336, Pekanbaru Dominasi Lebih dari 58 Persen
Ilustrasi Khasus HIV di pekanbaru. (TN/Free)

Taktiknews.com, Pekanbatru — Upaya penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi Riau terus diperkuat di tengah tingginya temuan kasus yang masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah, khususnya di Kota Pekanbaru.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, S.Kep, MH mengungkapkan, berdasarkan data hingga Triwulan IV 2025, jumlah kumulatif kasus HIV di Riau mencapai 11.336 kasus, dengan 6.990 orang masih hidup sebagai Orang Dengan HIV (ODHIV).

“Total kumulatif temuan kasus HIV di Provinsi Riau sejak tahun 1997 sampai Triwulan IV 2025 adalah sebanyak 11.336 kasus, dengan jumlah Orang Dengan HIV yang masih hidup sebanyak 6.990 ODHIV,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).

Kasus tersebut tersebar di 12 kabupaten/kota, namun lebih dari separuh terkonsentrasi di Pekanbaru.

“Tersebar di 12 kabupaten/kota dengan kasus terbanyak di Kota Pekanbaru yaitu sebanyak 6.598 ODHIV atau 58,20 persen, sedangkan daerah lain sebarannya di bawah 10 persen,” jelasnya.

Zulkifli menilai dominasi kasus di Pekanbaru dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari jumlah penduduk, aktivitas ekonomi, hingga mobilitas masyarakat yang tinggi.

“Kota Pekanbaru merupakan daerah dengan temuan kasus HIV terbanyak di Riau. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor di antaranya jumlah penduduk yang lebih besar, dinamika sosial dan ekonomi yang tinggi, gaya hidup serta mobilitas penduduk yang tinggi,” ungkapnya.

Selain itu, keberadaan fasilitas layanan HIV yang lebih lengkap juga menjadi faktor pendukung tingginya angka temuan di ibu kota provinsi tersebut.

“Kemudian Kota Pekanbaru memiliki layanan HIV tertua di Riau yaitu RSUD Arifin Achmad, sehingga pasien-pasien lama dari kabupaten/kota banyak mengakses layanan di Kota Pekanbaru,” tambahnya.

Untuk menekan laju penularan, Dinas Kesehatan Provinsi Riau menerapkan strategi nasional STOP HIV yang mengedepankan pendekatan komprehensif.

“Langkah utama Dinas Kesehatan Provinsi dalam menekan penularan HIV/AIDS adalah melaksanakan strategi penanggulangan HIV sebagai strategi nasional yaitu STOP HIV, S yaitu suluh atau penyuluhan, T temukan kasus sedini mungkin, O obati, dan P pertahankan kadar virus HIV tetap tersupresi,” jelasnya.

Edukasi menjadi salah satu fokus utama dengan menyasar berbagai lapisan masyarakat melalui beragam metode.

“Menginformasikan kepada masyarakat apa itu penyakit HIV, bagaimana penularannya serta bagaimana mencegahnya merupakan faktor yang sangat penting untuk memutus mata rantai penularan,” katanya.

“Informasi ini telah disampaikan melalui media sosial, promosi kesehatan oleh petugas di puskesmas yang turun ke masyarakat, ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus serta dengan dialog interaktif di RRI,” ujarnya.

Selain edukasi, deteksi dini juga terus diperluas. Sepanjang 2025, ratusan ribu orang telah menjalani tes HIV.

“Dinas Kesehatan Provinsi Riau tahun 2025 telah melakukan testing HIV sebanyak 198.298 orang, dengan kasus HIV positif sebanyak 1.051 orang,” ungkapnya.

Layanan pengobatan juga menunjukkan peningkatan dengan ribuan pasien mengakses terapi.

“Tahun 2025 tercatat sebanyak 4.172 orang mengakses layanan perawatan dukungan pengobatan HIV se-Provinsi Riau,” katanya.

Capaian positif juga terlihat dari hasil pemeriksaan viral load pasien.

“Tercatat tahun 2025 telah dilakukan pemeriksaan viral load terhadap 2.524 ODHIV dengan hasil 95,92 persen virusnya telah tersupresi,” jelasnya.

Dinas Kesehatan turut mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan aktif melakukan pencegahan.

“Kami juga menekankan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi tentang penyakit menular ini. Serta hindari perilaku seksual berisiko,” katanya.

Upaya pencegahan lainnya juga ditekankan untuk menekan risiko penularan.

“Hindari penggunaan berbagi jarum suntik, dan lakukan terapi ARV bagi yang sudah terinfeksi,” pungkasnya.

Secara historis, tren kasus HIV di Riau menunjukkan peningkatan sejak awal 2000-an dan semakin signifikan dalam satu dekade terakhir.

“Sejak tahun 1997 ditemukan 11.336 kasus dengan 6.990 orang masih hidup. Dengan data kasus memasuki stadium AIDS sebanyak 4.480 orang,” kata Zulkifli.

Lonjakan kasus mulai terlihat sejak 2013 dan terus berlanjut hingga saat ini.

“Untuk tahun 2013 ditemukan 433 kasus, 2014 sebanyak 569 kasus, 2015 sebanyak 738 kasus, 2016 sebanyak 576 kasus, 2017 sebanyak 741 kasus, 2018 sebanyak 675 kasus, 2019 sebanyak 587 kasus, dan 2020 ditemukan 726 kasus,” katanya.

Dalam lima tahun terakhir, angka kasus kembali meningkat signifikan.

“Setelahnya pada 2021 ditemukan sebanyak 570 kasus, 2022 sebanyak 835 kasus, 2023 sebanyak 1001, 2024 sebanyak 1006 kasus, terakhir pada 2025 sebanyak 1051 kasus,” ungkapnya.

Sebaran kasus masih didominasi Pekanbaru, sementara daerah lain berada di bawah 10 persen.

“Terjadi di seluruh daerah di Riau dengan persentase di bawah 10 persen. Sementara di Pekanbaru menyentuh 58,20 persen atau setara dengan 6.598 orang,” ungkapnya.

Beberapa daerah lain juga mencatat angka kasus yang cukup tinggi.

“Selain Kota Pekanbaru, kasus terbanyak lainnya ditemukan di Kabupaten Bengkalis 951 kasus, Kota Dumai 855 kasus, Kabupaten Pelalawan 596 kasus, Rokan Hilir 556 kasus dan Indragiri Hilir 477 kasus,” ujarnya.

“Setelahnya di Kabupaten Siak 327 kasus, Rokan Hulu 265 kasus, Kepulauan Meranti 223 kasus, Indragiri Hulu 213 kasus, Kampar 170 kasus dan Kuantan Singingi 105 kasus,” tambahnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *