Taktiknews.com, Pekanbaru – Keluhan warga terkait bau menyengat yang tiba-tiba muncul di sejumlah wilayah Kota Pekanbaru kembali mencuat. Kali ini, warga di kawasan Panam, Kecamatan Bina Widya, ramai mengungkapkan keresahan mereka melalui media sosial setelah mencium aroma tak sedap yang disebut menyerupai gas metan.
Meski memicu kepanikan warga Panam, fenomena bau tersebut ternyata bukan hal baru bagi masyarakat di wilayah lain seperti Rumbai, Payung Sekaki, hingga Sukajadi. Sejumlah warga lama menilai bau itu diduga berasal dari aktivitas industri di kawasan Perawang, Kabupaten Siak, yang terbawa angin hingga ke Pekanbaru.
Ibnu (50), warga Limbungan, Kecamatan Rumbai, mengaku sudah puluhan tahun akrab dengan aroma tersebut. Menurutnya, bau serupa kerap tercium secara berkala, tergantung arah dan kekuatan angin.
“Bau seperti itu sudah lama kami rasakan. Biasanya sebulan sekali, kadang bisa tercium sampai ke Rumbai. Itu bau dari arah pabrik bubur kertas di Perawang,” ujar Ibnu, Sabtu (24/1/2026).
Ia menduga, bau tersebut belakangan bisa menjangkau wilayah yang lebih jauh, termasuk Panam, karena berkurangnya tutupan hutan industri di antara Perawang dan Pekanbaru akibat kegiatan penanaman ulang (replanting).
“Sekarang banyak hutan yang ditebang untuk replanting, jadi tidak ada lagi penghalang angin. Kalau arah angin pas, bau dan asapnya bisa terbawa jauh ke barat Pekanbaru,” jelasnya.
Keluhan serupa juga diakui warga Sukajadi. Rahma (38), yang tinggal di sekitar perbatasan Payung Sekaki, mengatakan bau menyengat itu kadang tercium hingga ke lingkungan tempat tinggalnya.
“Kadang baunya sampai ke sini. Dulu saya kira bau pabrik karet di Sungai Siak, tapi setelah pabrik itu dibongkar, bau tetap muncul,” ungkap Rahma, Ahad (25/1/2026).
Rahma mengaku semakin yakin sumber bau berasal dari Perawang, lantaran memiliki anggota keluarga yang bekerja di kawasan industri tersebut. Menurutnya, aroma yang muncul kerap menyerupai bau belerang atau limbah industri.
“Kalau warga lama, sudah paham. Biasanya yang kaget itu pendatang baru atau yang tinggalnya jauh seperti Panam atau Arengka,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Sukri (42), warga yang pernah menetap di Labuh Baru Barat, Kecamatan Payung Sekaki. Ia mengklaim dapat membedakan bau sampah, karet, dan bau asap industri.
“Kalau dari Perawang itu baunya khas, mirip bau limbah tahu atau bau menyengat seperti kentut. Beda dengan bau sampah atau karet. Biasanya makin terasa saat cuaca panas dan angin kencang,” tuturnya.
Menindaklanjuti kehebohan di media sosial, tim Taktiknews.com sempat melakukan penelusuran di sejumlah titik, termasuk sepanjang Jalan HR Soebrantas dan Jalan Soekarno-Hatta, yang berbatasan dengan Kecamatan Bina Widya dan Tuah Madani. Namun hingga sore hari, bau menyengat seperti yang dikeluhkan warganet tidak lagi tercium.
Penelusuran lanjutan pada Ahad (25/1/2026) ke wilayah Sukajadi, Payung Sekaki, Senapelan hingga Rumbai Pesisir juga belum menemukan bau menyengat sebagaimana dilaporkan sebelumnya.
Meski demikian, keluhan warga kembali menyoroti persoalan dampak aktivitas industri terhadap kualitas udara, serta pentingnya pengawasan lintas daerah agar kejadian serupa tidak terus berulang dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.***













