Banner Website
Daerah

Akses Kesehatan Jadi Masalah Serius, BWI Siak Bangun Rumah Singgah untuk Pasien Dhuafa

31
×

Akses Kesehatan Jadi Masalah Serius, BWI Siak Bangun Rumah Singgah untuk Pasien Dhuafa

Sebarkan artikel ini
Akses Kesehatan Jadi Masalah Serius, BWI Siak Bangun Rumah Singgah untuk Pasien Dhuafa
Ketua BWI Kabupaten Siak, Syamsurizal Tanda tangani terkait Kerjasama dalam menangani ketimpangan di kabupaten siak, Selasa (17/2/2026). /TN/Muslim

TaktikNews.com, Siak – Ketimpangan akses layanan kesehatan bagi masyarakat prasejahtera di Kabupaten Siak menjadi perhatian. Jarak tempuh yang jauh, biaya transportasi tinggi, hingga ketiadaan tempat tinggal sementara membuat banyak pasien kesulitan menjalani pengobatan secara optimal. Menjawab persoalan ini, Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kabupaten Siak menetapkan pembangunan rumah singgah kesehatan sebagai program prioritas tahun 2026.

Ketua BWI Kabupaten Siak, Syamsurizal, menegaskan rumah singgah ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan solusi konkret atas problem sosial yang selama ini membebani pasien miskin, khususnya mereka yang harus berulang kali berobat ke rumah sakit rujukan di Kota Siak.

โ€œFakta di lapangan, banyak keluarga prasejahtera harus bolak-balik berobat ke rumah sakit dengan jarak jauh, tanpa kendaraan dan tanpa tempat tinggal. Ini kondisi yang tidak bisa dibiarkan,โ€ ujar Syamsurizal kepada Taktiknews.com, Selasa (17/2/2026).

Ia menjelaskan, rumah singgah kesehatan akan diperuntukkan bagi pasien rawat jalan, pasien yang menunggu jadwal operasi, serta keluarga pendamping yang selama ini terpaksa tidur di lorong rumah sakit atau menyewa penginapan dengan biaya yang tidak terjangkau.

Sebagian besar pasien tersebut merupakan warga yang berobat ke RSUD Tengku Rafi’an, rumah sakit rujukan utama di Kabupaten Siak. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat proses pengobatan mereka kerap terhambat hanya karena persoalan tempat tinggal sementara.

Syamsurizal menilai, selama ini konsep wakaf di masyarakat masih dipahami sebatas wakaf tanah kuburan atau rumah ibadah. Padahal, wakaf produktif dapat menjadi instrumen strategis untuk menjawab persoalan sosial, termasuk krisis akses kesehatan bagi kaum dhuafa.

โ€œKarena itu kami mendorong wakaf produktif. Wakaf harus hadir menyelesaikan masalah nyata masyarakat, salah satunya kesulitan pasien miskin saat berobat,โ€ tegasnya.

Untuk mempercepat realisasi, BWI Siak menginisiasi gerakan wakaf tunai Rp1.000 per hari, yang menyasar ASN, non-ASN, para penghulu, masyarakat umum hingga dunia usaha. Dana wakaf tersebut akan difokuskan untuk pembangunan rumah singgah kesehatan dengan estimasi anggaran sekitar Rp1 miliar.

Rencananya, rumah singgah akan dibangun di atas lahan milik Baznas Siak. Lokasinya dinilai sangat strategis karena dekat dengan rumah sakit dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki, sehingga benar-benar memudahkan pasien.

Dari tingkat provinsi, Ketua Badan Wakaf Indonesia Provinsi Riau, Abdul Rasyid Suharto, menyebut program ini sebagai langkah visioner yang menyentuh akar persoalan pelayanan kesehatan.

โ€œRumah singgah kesehatan ini menjawab masalah klasik masyarakat kita: jauh dari rumah sakit, biaya tinggi, dan tidak punya tempat tinggal. Program ini sangat dibutuhkan,โ€ katanya.

Ia menambahkan, pembangunan rumah singgah kesehatan merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Kabupaten Siak dan BWI. Fokus utamanya adalah menyediakan hunian sementara yang layak, gratis, dan manusiawi bagi pasien dhuafa selama menjalani pengobatan.

โ€œIni bukan sekadar fasilitas, tapi bentuk kehadiran negara dan lembaga wakaf di tengah penderitaan masyarakat. Isu kesehatan harus ditangani secara serius dan berkelanjutan,โ€ pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *