Banner Website
Peristiwa

WFH ASN Riau Disiapkan April, Pemprov Tekankan Efisiensi Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak

22
×

WFH ASN Riau Disiapkan April, Pemprov Tekankan Efisiensi Energi di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Sebarkan artikel ini
Awal 2026, Plt Gubri Tekankan Disiplin Anggaran dan Larang Proyek Tambahan
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto saat apel pagi di awal tahun 2026. (TN/Mc)

Taktiknews.com, Pekanbaru – Pemerintah Provinsi Riau mulai menyiapkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) sebagai langkah strategis menekan konsumsi energi di tengah tekanan ekonomi global.

Kebijakan ini menjadi sorotan karena tidak hanya menyangkut pola kerja birokrasi, tetapi juga respons pemerintah daerah terhadap lonjakan harga energi dunia.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto menyampaikan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu petunjuk teknis resmi dari pemerintah pusat sebelum kebijakan tersebut diberlakukan secara menyeluruh.

Meski begitu, Pemprov Riau telah mempersiapkan skema awal pelaksanaan WFH yang direncanakan mulai diterapkan pada April 2026.

“Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya mendukung penghematan penggunaan listrik dan bahan bakar minyak (BBM),” ujar SF Hariyanto, Senin (30/3/2026).

Isu utama yang melatarbelakangi kebijakan ini adalah meningkatnya harga minyak dunia yang kini telah menembus angka di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi ini jauh melampaui asumsi sebelumnya yang berada di kisaran 70 dolar AS per barel.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada beban anggaran pemerintah, khususnya dalam penggunaan energi.

Menurut SF Hariyanto, kondisi global saat ini menuntut pemerintah daerah untuk lebih adaptif dan efisien dalam pengelolaan sumber daya.

Ia menegaskan bahwa langkah penghematan perlu dilakukan sejak dini guna mengantisipasi tekanan ekonomi yang lebih besar.

“Kita harus waspada dengan situasi global. Ini bukan hanya soal harga minyak, tetapi bagaimana kita mengatur pengeluaran agar tetap terkendali,” jelasnya.

WFH dinilai sebagai salah satu solusi efektif untuk mengurangi mobilitas pegawai, yang secara otomatis berdampak pada penurunan konsumsi BBM, terutama dari penggunaan kendaraan dinas.

Dalam skema yang disiapkan, Pemprov Riau akan membatasi penggunaan kendaraan dinas selama masa WFH. Seluruh kendaraan operasional diwajibkan untuk tidak digunakan dan harus disimpan di rumah penanggung jawab masing-masing.

Kebijakan ini diperkirakan akan mulai diterapkan pada akhir pekan, yakni Jumat hingga Minggu. Selama periode tersebut, kendaraan dinas tidak diperbolehkan beroperasi sama sekali.

“Untuk sementara kemungkinan dimulai hari Jumat. Jadi kendaraan dinas harus standby dan tidak boleh dipakai,” tegas SF Hariyanto.

Selain itu, penghematan juga difokuskan pada penggunaan listrik di lingkungan kantor organisasi perangkat daerah (OPD).

Pemprov menginstruksikan agar seluruh perangkat listrik seperti pendingin ruangan (AC) dan lampu dimatikan selama akhir pekan.

Bahkan, pada hari kerja Senin hingga Kamis, pegawai diimbau untuk tidak langsung menyalakan AC pada pagi hari.

Sebagai alternatif, penggunaan ventilasi alami seperti membuka jendela diutamakan hingga kondisi ruangan benar-benar membutuhkan pendingin udara.

Langkah ini dinilai sederhana, namun memiliki dampak signifikan dalam menekan konsumsi listrik secara keseluruhan.

Meskipun kebijakan WFH akan diberlakukan, Pemprov Riau menegaskan bahwa produktivitas dan kualitas pelayanan publik tidak boleh menurun. ASN tetap diwajibkan menjalankan tugasnya seperti biasa, hanya saja dengan sistem kerja jarak jauh.

SF Hariyanto menekankan bahwa teknologi digital harus dimanfaatkan secara maksimal, termasuk penggunaan aplikasi rapat daring seperti Zoom untuk mendukung koordinasi kerja.

“Kerja tetap berjalan. Hanya saja dilakukan secara online. Pelayanan kepada masyarakat tidak boleh terganggu,” ujarnya.

Penegasan ini menjadi penting untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terkait potensi penurunan kualitas layanan akibat perubahan sistem kerja.

Untuk memastikan kebijakan ini berjalan efektif, Pemprov Riau akan melakukan evaluasi secara berkala. Setiap kepala OPD diminta untuk memantau dan membandingkan penggunaan listrik sebelum dan sesudah kebijakan diterapkan.

Data tersebut akan menjadi indikator utama dalam menilai keberhasilan program efisiensi energi ini. Jika terbukti efektif, bukan tidak mungkin kebijakan serupa akan diperluas atau bahkan dijadikan pola kerja jangka panjang.

“Saya minta setiap OPD melakukan evaluasi. Kita harus tahu apakah program ini benar-benar menghemat atau tidak,” kata SF Hariyanto.

Kebijakan WFH yang diiringi dengan penghematan energi ini mencerminkan upaya konkret pemerintah daerah dalam merespons dinamika global. Lonjakan harga minyak bukan hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi daerah.

Dengan mengurangi konsumsi BBM dan listrik, Pemprov Riau berharap dapat menekan beban anggaran sekaligus memberikan contoh kepada masyarakat tentang pentingnya efisiensi energi.

Isu efisiensi energi kini menjadi perhatian utama, seiring meningkatnya ketergantungan terhadap sumber daya yang semakin mahal. Pemprov Riau pun mengambil langkah adaptif dengan mengombinasikan kebijakan kerja fleksibel dan pengendalian penggunaan energi.

Jika berjalan sesuai rencana, kebijakan ini tidak hanya berdampak pada penghematan anggaran, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi sistem kerja pemerintahan yang lebih modern, efisien, dan responsif terhadap perubahan global.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *