Banner Website
Peristiwa

DLH Pringsewu temukan pengelolaan limbah SPPG belum optimal, grease trap

19
×

DLH Pringsewu temukan pengelolaan limbah SPPG belum optimal, grease trap

Sebarkan artikel ini
DLH Pringsewu Temukan Pengelolaan Limbah SPPG Ambarawa Barat Belum Optimal, Grease Trap Belum Tersedia
Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu melakukan inspeksi dan pembinaan terhadap sistem pengelolaan limbah di SPPG Ambarawa Barat, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Jumat (12/6/2026). Dalam pemeriksaan tersebut, DLH mengevaluasi saluran pembuangan, pengelolaan IPAL, serta kebutuhan pemasangan grease trap guna mendukung pengolahan limbah yang lebih optimal dan ramah lingkungan

Taktiknews.com, Pringsewu – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu melakukan pendampingan dan pembinaan terkait pengelolaan limbah di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ambarawa Barat, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Jumat (12/6/2026).

Dalam kegiatan tersebut, petugas menemukan sejumlah hal yang perlu ditindaklanjuti, mulai dari belum tersedianya grease trap pada area pencucian, optimalisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga sistem pembuangan asap dapur yang masih mengarah ke permukiman warga.

Petugas Pengendalian Dampak Lingkungan DLH Kabupaten Pringsewu, Hendra, mengatakan hasil pemeriksaan telah dituangkan dalam berita acara sebagai bagian dari proses pembinaan terhadap pengelola SPPG.

“Kami dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pringsewu melaksanakan pendampingan dan pembinaan terkait pengelolaan limbah Program Makan Bergizi Gratis yang ada di SPPG Ambarawa Barat. Ada beberapa temuan yang sudah kami tuangkan dalam berita acara,” kata Hendra.

Menurut Hendra, salah satu temuan yang menjadi perhatian dalam pembinaan tersebut adalah belum tersedianya grease trap pada titik-titik pencucian di area dapur.

“Kami menemukan belum ada grease trap di masing-masing tempat pencucian sehingga pemisahan antara lemak dan air limbah belum tertangani dengan baik,” ujarnya.

Grease trap merupakan perangkat yang berfungsi memisahkan kandungan lemak, minyak, dan sisa bahan organik dari air limbah sebelum dialirkan menuju saluran pembuangan atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Keberadaan alat ini dinilai penting karena limbah lemak yang langsung masuk ke saluran pembuangan dapat mengendap dan menempel pada dinding saluran. Dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penyumbatan, mengganggu kinerja sistem pengolahan limbah, serta menimbulkan aroma tidak sedap di lingkungan sekitar.

Selain menjaga saluran pembuangan tetap berfungsi dengan baik, grease trap juga membantu mengurangi beban kerja IPAL. Dengan demikian, proses pengolahan limbah menjadi lebih efektif dan kualitas air limbah yang dihasilkan dapat lebih mudah dikendalikan sebelum dibuang ke lingkungan.

Pada fasilitas pengolahan makanan berskala besar, termasuk dapur penyedia makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penggunaan grease trap menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung sistem sanitasi dan pengelolaan limbah yang sesuai standar.

Selain persoalan grease trap, DLH juga menemukan bahwa fasilitas IPAL yang telah tersedia di lokasi belum berfungsi secara maksimal.

“Mereka sudah memiliki IPAL, namun pengelolaannya masih perlu dioptimalkan. Kami sudah memberikan arahan terkait penanganan IPAL agar dapat berfungsi lebih maksimal sehingga tidak menimbulkan bau yang menyengat terhadap lingkungan sekitar,” jelas Hendra.

Dalam inspeksi lapangan tersebut, petugas juga mendapati asap dari aktivitas dapur masih mengarah ke rumah warga yang berada di sekitar lokasi.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, DLH menyarankan pengelola memasang cerobong asap dengan ketinggian yang memadai agar asap hasil aktivitas memasak dapat terdispersi ke udara dan tidak langsung menuju kawasan permukiman.

“Tadi kami sarankan untuk memasang cerobong asap yang lebih tinggi. Dari pihak pengelola menyampaikan bahwa pemasangan akan segera dilakukan,” katanya.

Sebagai langkah lanjutan, DLH juga meminta agar dilakukan pengujian kualitas air limbah melalui laboratorium setelah pemasangan grease trap dan optimalisasi sistem IPAL selesai dilakukan.

Menurut Hendra, hasil pengujian laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui sejauh mana efektivitas sistem pengolahan limbah yang diterapkan di lokasi tersebut.

“Kami juga akan melakukan evaluasi lanjutan. Apabila arahan yang telah diberikan tidak dilaksanakan, maka akan ada pengawasan lebih lanjut dan koordinasi dengan instansi yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Sebelumnya, sejumlah warga di sekitar SPPG Ambarawa Barat mengeluhkan munculnya aroma tidak sedap yang diduga berasal dari aktivitas dapur penyedia makanan Program Makan Bergizi Gratis.

Warga mengaku bau menyengat kerap tercium hingga masuk ke dalam rumah, terutama saat aktivitas dapur berlangsung pada sore hingga malam hari. Keluhan tersebut kemudian disampaikan kepada pihak terkait dan ditindaklanjuti melalui kegiatan pendampingan serta pembinaan yang dilakukan DLH Kabupaten Pringsewu.

Melalui pembinaan tersebut, DLH berharap seluruh rekomendasi yang diberikan dapat segera dilaksanakan sehingga operasional dapur tetap berjalan optimal tanpa menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan masyarakat maupun kualitas lingkungan di sekitar lokasi. ( Davit )

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *