Banner Website
Daerah

Riau Masuk Kemarau Awal, Ancaman Karhutla Mulai Mengintai

41
×

Riau Masuk Kemarau Awal, Ancaman Karhutla Mulai Mengintai

Sebarkan artikel ini
Riau Masuk Kemarau Awal, Ancaman Karhutla Mulai Mengintai
Ilustrasi Riau Masuk Kemarau Awal. TN/md/Ist

TaktikNews.com, Pekanbaru – Provinsi Riau mulai memasuki fase kemarau awal pada Februari 2026. Kondisi ini menjadi sinyal peringatan dini terhadap meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyebutkan, fenomena ini merupakan bagian dari pola iklim tahunan normal di Riau yang memiliki karakter hujan tipe equatorial.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Bibin S, menjelaskan bahwa wilayah Riau secara klimatologis mengalami dua periode kemarau dan dua musim hujan setiap tahunnya.

“Secara umum, kemarau pertama di Riau berlangsung mulai Februari hingga pertengahan Maret. Kemarau kedua biasanya terjadi pada Juni sampai September,” jelas Bibin, Sabtu (7/2/2026).

Ia menambahkan, meskipun telah memasuki fase kemarau awal, hujan ringan masih berpeluang turun secara sporadis di beberapa daerah. Namun, intensitas dan sebarannya tidak merata.

“Awal Februari ini sudah masuk kemarau pertama. Curah hujan mulai berkurang, walau hujan lokal masih bisa terjadi,” ujarnya.

Berkurangnya curah hujan dinilai dapat mempercepat pengeringan lahan gambut, yang selama ini menjadi faktor utama penyebab kebakaran besar di Riau. Oleh karena itu, BMKG mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

Menanggapi kondisi tersebut, BPBD dan Pemadam Kebakaran Provinsi Riau mulai melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat koordinasi lintas daerah.

Kepala BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal, mengatakan pihaknya akan segera menggelar rapat koordinasi bersama BPBD kabupaten dan kota untuk memastikan kesiapan menghadapi potensi karhutla.

“Kami akan mengumpulkan BPBD kabupaten/kota untuk menyamakan langkah penanganan karhutla, termasuk membahas kesiapan personel dan peralatan,” ungkap Edy.

Ia juga membuka kemungkinan penetapan status siaga darurat di daerah-daerah tertentu apabila indikator ancaman kebakaran meningkat.

Selain kesiapan pemerintah, peran masyarakat dinilai sangat krusial. BPBD kembali menegaskan larangan membuka lahan dengan cara dibakar, yang kerap menjadi pemicu utama karhutla.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Dampaknya sangat luas dan merugikan semua pihak,” tegas Edy.

Dengan masuknya periode kemarau awal ini, sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat diharapkan mampu menekan risiko karhutla agar tidak kembali terulang seperti tahun-tahun sebelumnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *