Banner Website
Nasional

Wamenaker: Ijazah Saja Tak Cukup, MagangHub Disiapkan Percepat Lulusan Masuk Dunia Kerja

7
×

Wamenaker: Ijazah Saja Tak Cukup, MagangHub Disiapkan Percepat Lulusan Masuk Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
Wamenaker Luncurkan MagangHub untuk Fresh Graduate
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor. (TN/Biro Humas Kemnaker)

Taktiknews.com, Bekasi – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan bahwa ijazah perguruan tinggi tidak lagi menjadi satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang memasuki dunia kerja.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah kebutuhan dunia industri yang kini lebih mengutamakan tenaga kerja dengan kompetensi nyata, adaptif, dan siap bekerja.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah akan kembali menjalankan Program MagangHub atau Pemagangan Nasional yang diperuntukkan bagi lulusan diploma dan sarjana atau fresh graduate.

Program yang didukung anggaran sebesar Rp4,14 triliun itu dirancang untuk memperkuat kompetensi lulusan sekaligus mempercepat transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja.

“Saat ini kita berada di era transformasi ketenagakerjaan yang bergerak sangat cepat. Dunia industri tidak lagi hanya mencari individu yang memegang selembar ijazah, melainkan mencari sarjana yang cakap dan memiliki kompetensi nyata,” ujar Afriansyah Noor saat memberikan kuliah umum pada Wisuda Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) Tahun Akademik 2025–2026 di Bekasi, Sabtu (13/6/2026).

Afriansyah menjelaskan, MagangHub hadir untuk menjembatani kesenjangan keterampilan (skill gap) dan ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Melalui program tersebut, peserta akan memperoleh berbagai fasilitas, mulai dari uang saku, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, pendampingan mentor profesional, hingga kesempatan mengikuti sertifikasi kompetensi yang diakui secara nasional.

Ia menegaskan sertifikasi kompetensi kini menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tengah persaingan global.

“Ijazah tidak lagi cukup karena industri tidak lagi bertanya apa ijazah kamu, melainkan apa kompetensimu. Sertifikat kompetensi inilah yang menjadi bukti bahwa tenaga kerja kita memiliki standar kemampuan yang dibutuhkan industri,” tegasnya.

Selain itu, Afriansyah mengungkapkan kondisi ketenagakerjaan nasional menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,68 persen.

Meski demikian, pemerintah tetap melihat tantangan besar akibat disrupsi teknologi, otomatisasi, serta munculnya kebutuhan kompetensi baru yang terus berkembang.

Karena itu, penguatan ekosistem pelatihan dan pendidikan vokasi yang terhubung dengan kebutuhan industri menjadi langkah penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kompetitif.

Dalam kesempatan tersebut, Afriansyah juga mendorong Universitas Muhammadiyah Indonesia memperkuat kolaborasi dengan Balai Latihan Kerja (BLK) dan dunia industri, terutama karena kampus tersebut berada di kawasan industri strategis Bekasi.

“Kampus, pemerintah, dan industri harus bergerak bersama menyiapkan SDM yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini maupun masa depan,” ujarnya.

Di hadapan sekitar 370 wisudawan, Afriansyah berpesan agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi terus meningkatkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

“Investasi terbaik sebuah bangsa bukan pada sumber daya alamnya, melainkan pada kualitas sumber daya manusianya. Jadilah motor penggerak kemajuan ekonomi nasional,” pungkasnya.***

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *