Taktiknews.com, Pekanbaru – Di tengah laju pembangunan Kota Pekanbaru yang kian pesat, berdiri kokoh sebuah bangunan bersejarah yang tak sekadar menjadi tempat ibadah. Masjid Raya Senapelan menyimpan jejak panjang peradaban Melayu dan menjadi saksi eksistensi Kesultanan Siak Sri Indrapura di tepian Sungai Siak.
Masjid ini bukan hanya simbol religius, tetapi juga penanda identitas sejarah Kota Pekanbaru. Isu pelestarian warisan budaya pun kembali mencuat, seiring modernisasi yang berpotensi mengikis jejak masa lalu.
Ketua Pengurus Masjid Raya Senapelan, H. Juli Usman, menjelaskan bahwa cikal bakal masjid ini telah ada sejak abad ke-18. Namun, lokasinya kala itu belum berada di titik sekarang.
Awalnya, masjid berdiri di kawasan Kampung Bandar, tidak jauh dari aliran Sungai Siak. Pada masa itu, wilayah Senapelan merupakan pusat perdagangan sekaligus area pemerintahan Kesultanan Siak. Keberadaan masjid di tepi sungai dinilai strategis karena menjadi titik pertemuan masyarakat—baik untuk beribadah maupun bermusyawarah.
Seiring perkembangan kawasan, masjid sempat beberapa kali dipindahkan. Dari Kampung Bandar, bangunan dipindah ke sekitar Pasar Bawah, lalu bergeser lagi ke depan Makam Marhum Pekan. Jejak fondasi lama di lokasi tersebut masih bisa ditemukan hingga kini dan menjadi bukti otentik perjalanan panjangnya.
Tonggak penting pembangunan terjadi pada 1926. Para tokoh masyarakat Pekanbaru bersama Sultan Syarif Kasim II bersepakat mendirikan masjid secara permanen. Pembangunan itu menjadi simbol kolaborasi antara ulama, masyarakat, dan pihak kesultanan.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1942, masjid mulai difungsikan setelah melalui pembenahan besar. Gapura megah yang kini menjadi ikon kawasan ditambahkan pada 1945, memperkuat citra religius sekaligus identitas historis Senapelan.
Memasuki era pascakemerdekaan, kebutuhan ruang ibadah meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Renovasi dilakukan bertahap pada 1969, 1973, dan 1979.
Perubahan paling signifikan terjadi setelah 1998 melalui program revitalisasi besar yang didukung Pemerintah Provinsi Riau. Desain masjid kemudian mengadopsi arsitektur bergaya Turki dengan kubah besar dan detail ornamen yang megah. Transformasi ini menjadikan Masjid Raya Senapelan tampil lebih representatif sebagai masjid raya kota.
Namun, di balik kemegahan tersebut, muncul kekhawatiran akan lunturnya nilai historis asli bangunan.
Meski mengalami perombakan besar, sejumlah elemen lama tetap dipertahankan. Enam tiang utama di ruang dalam masjid serta tiang pada bagian selasar luar merupakan peninggalan bangunan era Kesultanan Siak.
Bagian marmer di sekitar tiang tersebut diyakini sebagai bagian dari struktur lama. Dahulu, posisi imam hanya berada di sekitar area tiang bersejarah itu sebelum masjid diperluas seperti sekarang.
Keputusan mempertahankan elemen lama ini bukan tanpa alasan. Pengurus ingin memastikan generasi mendatang tetap dapat menyaksikan bukti fisik perjalanan sejarah, bukan sekadar mendengarnya dalam cerita.
Modernisasi memang membawa kemajuan, namun juga menghadirkan tantangan dalam menjaga identitas lokal. Masjid Raya Senapelan menjadi contoh nyata bagaimana warisan sejarah harus berdampingan dengan kebutuhan zaman.
Di tengah arsitektur Turki yang megah, tersimpan pesan penting: Pekanbaru pernah menjadi bagian penting dari perjalanan Kesultanan Siak. Jika elemen sejarah diabaikan, maka bukan hanya bangunan yang hilang, tetapi juga memori kolektif masyarakat Melayu Riau.
Masjid Raya Senapelan hari ini bukan sekadar destinasi religi. Ia adalah pengingat bahwa kemajuan kota seharusnya tidak menghapus jejak sejarahnya sendiri.***













