Banner Website
Daerah

Macet Kronis Garuda Sakti Kian Parah, Warga Desak Flyover Jadi Prioritas 2026

45
×

Macet Kronis Garuda Sakti Kian Parah, Warga Desak Flyover Jadi Prioritas 2026

Sebarkan artikel ini
Macet Kronis Garuda Sakti Kian Parah, Warga Desak Flyover Jadi Prioritas 2026
Simpang Garuda sakti, titik kemacetan terparah 2026. (TN/Sebalik)

Taktiknews.com, Pekanbaru – Persimpangan Garuda Sakti, Kecamatan Binawidya, hingga memasuki awal tahun 2026 masih menjadi titik kemacetan paling menyita energi bagi pengguna jalan di Pekanbaru.

Arus kendaraan yang padat, didominasi truk bertonase besar, membuat jalur strategis penghubung Pekanbaru-Bangkinang, sekaligus akses menuju Dumai dan Medan, semakin sulit dilalui.

Pantauan Taktiknews.com selama sepekan terakhir menunjukkan antrean kendaraan hampir setiap hari mengular panjang dari arah Jalan HR Soebrantas menuju Bangkinang maupun ke Jalan Garuda Sakti. Kondisi terparah terjadi pada awal pekan dan jam pulang kerja.

Deru mesin, klakson bersahutan, debu jalanan, hingga terik matahari menciptakan situasi yang melelahkan secara fisik maupun mental bagi pengendara. Bagi sebagian warga, melewati simpang ini bukan lagi soal keterlambatan, melainkan juga persoalan keselamatan.

Rara (22), mahasiswi yang hampir setiap hari melintas menuju kampus, mengaku kemacetan di Garuda Sakti kerap membuatnya cemas.

“Setiap sore menjelang magrib pasti macet. Truk besar saling berebut jalan, motor seperti kami terjepit. Bukan cuma capek, tapi takut terjadi apa-apa,” ujarnya, Minggu (11/1/2026).

Keluhan serupa disampaikan Risky (22). Menurutnya, kepadatan diperparah oleh rendahnya ketertiban berlalu lintas di kawasan tersebut. Ia bahkan memilih memutar jauh demi menghindari simpang Garuda Sakti.

“Macetnya bikin gelisah. Takut telat, takut tersenggol. Sekarang saya lebih pilih jalan alternatif walau lebih jauh, daripada stres di sini,” katanya.

Selain volume kendaraan, persoalan utama lainnya adalah lebar jalan yang tidak lagi memadai untuk menampung lalu lintas kendaraan berat. Natasya, pengguna sepeda motor, menilai kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi pengendara roda dua.

“Sekarang ini kita benar-benar berbagi ruang dengan truk besar. Kalau ada flyover, kendaraan bisa terbagi. Ini bukan hanya soal cepat sampai, tapi soal nyawa,” tegasnya.

Ia menyambut baik rencana pembangunan flyover Garuda Sakti, yang dinilai menjadi solusi paling realistis untuk mengurai kemacetan menahun di kawasan tersebut.

Kemacetan Garuda Sakti juga berdampak pada produktivitas dan ketepatan waktu, terutama bagi kalangan akademisi dan pekerja. Intan Kemala, dosen UIN Suska Riau, menyebut kondisi ini sebagai masalah serius yang belum mendapat penanganan konkret.

“Puncaknya sore hari. Jalan sempit, truk berhenti sembarangan, lalu lintas bercampur tanpa pengaturan tegas. Ini sangat menguras energi,” ujarnya.

Intan menilai pembangunan flyover merupakan langkah krusial, namun harus dibarengi dengan kebijakan pendukung.

“Selain flyover, perlu aturan jam operasional truk, penertiban parkir liar, dan penyediaan fasilitas jalan yang layak. Tanpa itu, kemacetan hanya akan berpindah titik,” tambahnya.

Rencana pembangunan flyover Garuda Sakti kini menjadi harapan besar masyarakat, khususnya warga Pekanbaru bagian barat dan puluhan ribu mahasiswa UIN Suska Riau yang setiap hari melintasi jalur tersebut.

Kemacetan yang terus berulang dinilai bukan lagi persoalan musiman, melainkan masalah struktural yang menuntut solusi nyata. Warga berharap tahun 2026 menjadi titik awal perubahan, agar denyut ekonomi, pendidikan, dan aktivitas harian masyarakat tidak lagi terhambat di simpang Garuda Sakti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *