Banner Website
Peristiwa

Karhutla Bengkalis Meluas, Kendala Air dan Angin Hambat Pemadaman di Sejumlah Titik

29
×

Karhutla Bengkalis Meluas, Kendala Air dan Angin Hambat Pemadaman di Sejumlah Titik

Sebarkan artikel ini
Karhutla Bengkalis Meluas, Kendala Air dan Angin Hambat Pemadaman di Sejumlah Titik
Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) digerakan padamkan api di bengkalis. (Taktiknews/Indra)

Taktiknews.com, Bengkalis – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bengkalis, Riau, masih menghadapi tantangan serius. Sejumlah titik api yang tersebar di beberapa desa hingga kini belum sepenuhnya berhasil dipadamkan, terutama akibat keterbatasan sumber air dan kondisi angin yang tidak menentu.

Tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman. Fokus utama saat ini berada di wilayah Kecamatan Bengkalis dan sekitarnya yang menjadi daerah paling terdampak.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menyampaikan bahwa upaya pemadaman terus diperkuat dengan penambahan personel dari berbagai daerah operasi (daops) Manggala Agni.

Di Desa Palkun, Kecamatan Bengkalis, misalnya, proses pemadaman baru memasuki tahap awal dengan dukungan tambahan dari Daops Pekanbaru. Satu regu personel diturunkan untuk membantu mengendalikan api yang masih aktif di kawasan tersebut.

Untuk mengatasi keterbatasan air, tim di lapangan juga mengerahkan alat berat guna membuat embung sebagai sumber air alternatif. Namun, upaya ini belum memberikan hasil maksimal karena embung yang dibangun masih belum terisi air secara memadai.

“Ini akan terus dicoba dengan skema pindah-pindah pompa jinjing maju ke kepala api dengan sumber air dari embung yang telah dibuat,” jelas Ferdian, Senin (6/4/2026) malam.

Kondisi ini membuat proses pemadaman berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. Tim harus bekerja ekstra dengan memanfaatkan peralatan seadanya sembari menunggu ketersediaan air mencukupi.

Di sisi lain, kabar positif datang dari Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara. Setelah delapan hari berjibaku dengan api, tim gabungan akhirnya berhasil memadamkan seluruh titik kebakaran di wilayah tersebut.

Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama empat tim gabungan yang terdiri dari dua tim Daops Sumatera V/Dumai, satu tim bantuan kendali operasi (BKO) dari Sarolangun, dan satu tim BKO dari Musi Banyuasin. Seluruh area yang sebelumnya terbakar kini telah dinyatakan dalam kondisi “clear and clean”.

Meski demikian, tantangan masih terus berlanjut di lokasi lain. Di Desa Sekodi, Kecamatan Bengkalis, pemadaman telah memasuki hari keempat, namun api masih belum sepenuhnya padam.

Tim dari Daops Siak yang bertugas di lokasi tersebut terus berupaya memadamkan api dengan dukungan water bombing dari udara. Bantuan ini diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman, terutama di area yang sulit dijangkau oleh tim darat.

Sementara itu, situasi lebih kompleks terjadi di Desa Kelemantan Barat. Angin kencang menjadi faktor utama yang memperparah kondisi di lapangan. Api yang sempat dikendalikan kembali menyebar dan bahkan menembus sekat yang telah dibuat oleh tim.

Menghadapi kondisi tersebut, petugas terpaksa memperlebar sekat api untuk mencegah penyebaran lebih luas. Namun, keterbatasan sumber air kembali menjadi kendala utama dalam upaya tersebut.

Di tengah berbagai tantangan itu, upaya penanganan juga menunjukkan hasil di luar wilayah Bengkalis. Di Desa Gambut Mutiara, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, kebakaran yang sebelumnya terjadi berhasil dipadamkan dalam waktu empat hari.

“Tim gabungan dari Daops Rengat dan BPBD telah menyelesaikan proses mopping up hingga status clean and clear,” imbuhnya.

Selain mengandalkan pemadaman darat, pemerintah juga mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu proses penanggulangan. Satu sortie penerbangan telah dilakukan dengan rute Dumai–Rupat, meski hasilnya belum maksimal.

Hingga saat ini, belum ditemukan potensi awan yang cukup untuk dilakukan penyemaian hujan buatan. Kondisi ini membuat upaya pemadaman masih sangat bergantung pada kerja tim di lapangan.

Untuk memperkuat penanganan, tambahan satu regu dari Daops Siak telah dikerahkan ke Desa Kembung Luar. Sementara itu, beberapa tim bantuan dari luar daerah seperti Musi Banyuasin dan Sarolangun mulai ditarik kembali setelah menyelesaikan tugasnya.

Saat ini, konsentrasi utama penanganan karhutla difokuskan di Bengkalis dengan total empat regu yang disebar di sejumlah titik rawan, yakni Desa Palkun, Kelemantan Barat, Sekodi, dan Kembung Luar.

“Kami konsentrasi di Bengkalis dengan kekuatan empat regu yang tersebar di beberapa titik. Mohon doa dan dukungan agar proses pemadaman berjalan lancar,” ujar Ferdian.

Situasi ini menegaskan bahwa Karhutla masih menjadi ancaman serius di wilayah Riau, khususnya Bengkalis. Diperlukan upaya terpadu dan berkelanjutan dari seluruh pihak agar kebakaran tidak semakin meluas dan dapat segera dikendalikan sepenuhnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *