Taktiknews.com, Pelalawan – Pemerintah Kabupaten Pelalawan kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya Melayu melalui kehadiran langsung Bupati Zukri pada prosesi adat Belimau Sultan, Minggu (15/2/2026). Tradisi sakral ini digelar sebagai bentuk penyambutan Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah.
Prosesi Belimau Sultan dilaksanakan bersama Syarif Kamaruddin Haroen, dan turut dihadiri Anggota DPD RI Abdul Hamid, unsur Forkopimda Pelalawan, jajaran kepala OPD, Lembaga Adat Melayu Riau, tokoh adat, serta tokoh masyarakat setempat.
Rangkaian kegiatan adat dipusatkan di Istana Sayap Pelalawan, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan adat menuju tepian Sungai Kampar, tepatnya di kawasan Kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawanโwilayah yang dikenal sebagai pusat sejarah berdirinya Kerajaan Pelalawan.
Kehadiran Bupati Zukri dalam prosesi ini menjadi penegasan bahwa pemerintah daerah tidak hanya mendukung pembangunan fisik, tetapi juga berperan aktif dalam pelestarian adat dan budaya yang sarat nilai religius.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan ziarah ke makam para Sultan Kerajaan Pelalawan, dilanjutkan makan beradat di lingkungan Istana Sayap. Puncak acara ditandai dengan prosesi Mandi Belimau Sultan di tepian Sungai Kampar yang berlangsung khidmat dan penuh makna.
Dalam sambutannya, Bupati Zukri menekankan bahwa tradisi Belimau Sultan bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan mengandung pesan spiritual yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern.
โBelimau Sultan adalah pengingat bagi kita semua untuk membersihkan diri, baik lahir maupun batin, serta mempererat silaturahmi sebelum memasuki bulan Ramadan,โ ujar Zukri.
Ia berharap tradisi adat ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas daerah yang memperkuat nilai keislaman dan kebudayaan Melayu di Pelalawan.
โPelestarian adat bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga tentang menjaga jati diri dan karakter masyarakat ke depan,โ tambahnya.
Prosesi Belimau Sultan tahun ini berlangsung tertib dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat yang memadati kawasan istana hingga tepian Sungai Kampar. Tradisi ini kembali menjadi simbol kuat perpaduan antara adat, budaya, dan nilai religius dalam menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan di Kabupaten Pelalawan.***














