Taktiknews.com, Pekanbaru – Wali Kota Pekanbaru Apresiasi SLB Santa Lusia, Bukti Pendidikan Inklusif Bisa Dibangun Gotong Royong saat menghadiri peresmian Gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Santa Lusia di Jalan Umban Sari Atas, Kecamatan Rumbai, Sabtu (10/1/2026). Kehadiran sekolah ini dinilai menjadi jawaban nyata atas kebutuhan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Kota Pekanbaru.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengaku kagum setelah melihat langsung bangunan SLB Santa Lusia. Ia menilai fasilitas sekolah tersebut berdiri dengan kualitas yang sangat baik, tertata rapi, dan representatif, meski seluruh proses pembangunannya dilakukan tanpa menggunakan anggaran pemerintah.
“Saya benar-benar tidak menyangka. Sekolah luar biasa bisa dibangun semegah ini, padahal murni dari sumbangan masyarakat,” ujar Agung.
Berdasarkan pemaparan panitia, pembangunan gedung SLB Santa Lusia menelan biaya sekitar Rp12 miliar yang seluruhnya berasal dari donasi umat dan para dermawan. Menurut Agung, angka tersebut jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan proyek serupa yang dikerjakan melalui anggaran pemerintah.
“Kalau dikerjakan dengan APBD, nilainya bisa mencapai Rp30 hingga Rp40 miliar. Ini membuktikan bahwa semangat gotong royong dan keikhlasan mampu menghadirkan pembangunan berkualitas dengan biaya yang jauh lebih hemat,” ungkapnya.
Efisiensi tersebut, lanjut Agung, tidak lepas dari peran aktif para donatur yang berkontribusi dalam berbagai bentuk, mulai dari material bangunan, fasilitas pendukung, hingga perlengkapan interior sekolah. Ia menyebut model pembangunan seperti ini patut dijadikan contoh dalam pengembangan fasilitas publik ke depan.
“Ketika banyak pihak terlibat secara tulus, pembangunan akan fokus pada manfaat dan terhindar dari praktik-praktik yang tidak sehat,” tegasnya.
Atas nama Pemerintah Kota Pekanbaru, Agung menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Santa Lusia, para suster, tenaga pendidik, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menghadirkan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yang selama ini masih terbatas jumlahnya.
Ia juga menekankan bahwa SLB Santa Lusia bersifat terbuka dan inklusif, tanpa membedakan latar belakang agama maupun sosial.
“Ini bukan hanya untuk umat tertentu. SLB ini terbuka untuk semua anak yang membutuhkan. Inilah wajah pendidikan yang sesungguhnya,” kata Agung.
Terkait perizinan, Agung memastikan Pemerintah Kota Pekanbaru akan membantu percepatan administrasi, meski kewenangan SLB berada di bawah Pemerintah Provinsi Riau. Ia menjamin proses Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
“Saya pastikan, izin PBG akan selesai dalam satu hari kerja,” ujarnya.
Agung juga mengungkapkan bahwa peresmian SLB Santa Lusia merupakan agenda yang telah lama dinantikannya. Ia bahkan memilih meninggalkan agenda rapat Forkopimda demi hadir langsung sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi para pendidik.
“Mendidik anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan kesabaran, cinta, dan ketulusan yang luar biasa. Pengabdian para suster dan guru di sini adalah amal besar yang nilainya tidak bisa diukur,” pungkasnya.***















