Banner Website
Nasional

Mendagri Tekankan Stabilitas Harga Pangan demi Jaga Daya Beli Rakyat

40
×

Mendagri Tekankan Stabilitas Harga Pangan demi Jaga Daya Beli Rakyat

Sebarkan artikel ini
Mendagri Tekankan Stabilitas Harga Pangan demi Jaga Daya Beli Rakyat
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Selasa (27/1/2026). /Taktiknews/Mc

Taktiknews.com, Jakarta – Pemerintah pusat menegaskan bahwa pengendalian harga pangan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas inflasi nasional. Langkah ini dinilai sangat penting untuk melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah yang paling terdampak lonjakan harga kebutuhan pokok.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang dirangkaikan dengan evaluasi dukungan pemerintah daerah terhadap Program 3 Juta Rumah, di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Tito menyebutkan, hingga saat ini kondisi inflasi nasional masih berada dalam batas yang terkendali. Menurutnya, hal itu tidak lepas dari konsistensi koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah yang dilakukan secara rutin.

“Inflasi bisa kita jaga karena koordinasi dilakukan secara intens. Setiap minggu kita rapat, daerah bergerak, kementerian juga bekerja,” ujar Tito.

Meski demikian, Mendagri mengingatkan agar seluruh pihak tidak lengah. Ia menegaskan bahwa kenaikan inflasi akan berdampak paling berat bagi masyarakat dengan penghasilan harian.

“Kalau harga beras, minyak goreng, telur, daging, dan ikan naik, yang paling cepat merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil. Bebannya langsung terasa,” tegasnya.

Dalam paparannya, Tito menjelaskan bahwa secara tahunan, salah satu komoditas yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi adalah emas perhiasan, yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga global. Ia menyebut harga emas saat ini terus mengalami tren kenaikan dan berada di luar kendali kebijakan domestik.

Selain emas, tekanan inflasi juga datang dari sektor lain, seperti makanan dan minuman, transportasi, serta kebutuhan perawatan pribadi. Peningkatan konsumsi masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru turut mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor.

Tito juga menyoroti tren inflasi yang menunjukkan kecenderungan meningkat, di mana inflasi pada Desember 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan November 2025 yang berada di angka 2,72 persen.

“Bukan hanya angkanya yang kita perhatikan, tapi juga arah pergerakannya. Tren yang naik ini harus kita waspadai bersama,” ujarnya.

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah memilih untuk memfokuskan pengendalian inflasi pada sektor yang paling dirasakan langsung oleh masyarakat, yakni komoditas pangan.

“Kalau emas perhiasan, itu mengikuti pasar dunia dan sulit dikendalikan. Karena itu, fokus utama kita adalah makanan dan minuman, karena itulah yang paling dirasakan oleh masyarakat,” pungkas Tito.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *