Banner Website
Teknologi

Ketika AI Dimatikan, Baru Terlihat Mana Wartawan Sungguhan dan Mana yang Sekadar Pandai Menggunakan Mesin

35
×

Ketika AI Dimatikan, Baru Terlihat Mana Wartawan Sungguhan dan Mana yang Sekadar Pandai Menggunakan Mesin

Sebarkan artikel ini
Davit Segara (Foto Pribadi)

OPINI / – Perkembangan kecerdasan buatan telah membawa kemudahan besar bagi dunia jurnalistik. Dalam hitungan detik, bahan wawancara dapat diolah menjadi tulisan, kalimat dapat dirapikan dan struktur berita dapat dibentuk dengan cepat. Namun kemudahan tersebut juga menyimpan persoalan ketika wartawan mulai menjadikan AI bukan sebagai alat bantu, melainkan sebagai tempat menggantungkan hampir seluruh kemampuan jurnalistiknya.

Saya berpandangan bahwa penggunaan AI bukan sebuah kesalahan. Yang menjadi persoalan adalah ketika seorang wartawan tidak lagi terbiasa mengolah hasil liputan dengan pikirannya sendiri. Setiap mendapatkan bahan berita langsung diberikan kepada mesin, kemud jiian hasilnya tinggal disalin, sedikit diedit dan dipublikasikan. Pada kondisi seperti itu, yang berkembang bukan kemampuan jurnalistik wartawannya, melainkan kemampuan aplikasinya.

Wartawan seharusnya memiliki kemampuan dasar untuk membaca sebuah peristiwa, menentukan angle, menyusun lead, mengembangkan fakta, memilih kutipan dan membangun alur berita. Semua kemampuan tersebut tidak muncul secara instan. Ia lahir dari latihan, pengalaman dan kebiasaan berpikir. Jika seluruh proses tersebut terus diserahkan kepada AI, kemampuan yang seharusnya menjadi modal utama seorang wartawan justru berisiko semakin tumpul.

Lebih ironis lagi ketika sebuah tulisan yang terlihat profesional kemudian dianggap sebagai bukti bahwa penulisnya memiliki kemampuan jurnalistik yang tinggi. Padahal bahasa yang bagus tidak selalu menunjukkan kemampuan berpikir yang bagus. Tulisan yang rapi tidak otomatis membuktikan bahwa wartawannya memahami fakta yang ditulis. Teknologi dapat membuat sebuah tulisan tampak cerdas, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan pengalaman lapangan dan tanggung jawab intelektual seorang wartawan.

Di sinilah ketergantungan terhadap AI menjadi persoalan serius. Wartawan yang terlalu nyaman dengan hasil jadi akan kehilangan kebiasaan untuk mengolah fakta secara mandiri. Lama-kelamaan proses jurnalistik berubah menjadi aktivitas memasukkan bahan ke aplikasi lalu menerima hasil akhir. Wartawan akhirnya hanya menjadi operator, sementara pekerjaan intelektual yang seharusnya menjadi inti profesinya perlahan diserahkan kepada mesin.

Lebih berbahaya lagi, AI bukanlah sumber kebenaran mutlak. Mesin dapat keliru memahami konteks, menyusun informasi yang tidak tepat atau menghasilkan kesimpulan yang tidak sesuai dengan fakta. Wartawan yang memiliki kemampuan jurnalistik akan memeriksa dan mengoreksi hasil tersebut. Tetapi wartawan yang sudah kehilangan kemampuan kritis justru dapat menerima kesalahan itu sebagai kebenaran hanya karena bahasanya terlihat meyakinkan.

Karena itu, kemampuan wartawan harus tetap diuji tanpa bantuan teknologi. AI seharusnya dapat dimatikan kapan saja dan wartawan tetap mampu menyusun berita berdasarkan hasil wawancara serta fakta lapangan. Jika kemampuan tersebut masih ada, maka teknologi memang berada pada tempatnya sebagai alat bantu. Tetapi jika tanpa AI kemampuan menulis langsung lumpuh, berarti ketergantungan sudah berada pada tingkat yang tidak sehat bagi profesionalitas jurnalistik.

Profesi wartawan tidak seharusnya melahirkan manusia yang hanya pandai menggunakan aplikasi. Wartawan harus menjadi manusia yang mampu memahami peristiwa, berpikir kritis, melakukan verifikasi dan mempertanggungjawabkan setiap kalimat yang diterbitkan. AI boleh mempercepat pekerjaan, tetapi jangan sampai kecepatan tersebut dibayar dengan hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir.

Pada akhirnya, teknologi akan terus berubah. Aplikasi dapat berganti, sistem dapat mengalami gangguan dan akses terhadap AI suatu saat bisa saja tidak tersedia. Ketika semua alat bantu itu hilang, tidak ada aplikasi yang dapat menyelamatkan wartawan yang tidak memiliki kemampuan dasar jurnalistik.

Sebab ketika suatu hari AI tidak tersedia, yang tersisa hanyalah kemampuan manusia itu sendiri. Pada saat itulah akan terlihat siapa yang benar-benar wartawan dan siapa yang selama ini hanya pandai menggunakan alat.

Penulis, Davit Segara
Pemimpin Redaksi Taktiknews.com
( Jenjang Wartawan Utama Dewan Pers)

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *