Taktiknews.com, Pekanbaru – Ketegangan konflik satwa dan manusia kembali mencuat di Kabupaten Siak. Sebanyak 11 ekor gajah Sumatra dilaporkan memasuki area mes karyawan PT Arara Abadi di Desa Rantau Bertuah pada Minggu (22/2/2026) pagi. Insiden tersebut menyebabkan sedikitnya lima unit rumah petak rusak parah dan sejumlah sepeda motor milik pekerja hancur diinjak-injak.
Peristiwa itu berlangsung cepat dan memicu kepanikan para penghuni mes. Dalam rekaman video berdurasi kurang dari satu menit yang beredar di masyarakat, terlihat para karyawan berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri saat kawanan gajah mendekati kompleks hunian.
Teriakan salah seorang warga terdengar jelas dalam video tersebut, menyebut masih ada penghuni yang belum sempat keluar rumah. Situasi mencekam pun tak terhindarkan ketika hewan berukuran besar itu terus bergerak di sekitar bangunan.
Berdasarkan laporan sementara, satu blok mes menjadi titik kerusakan paling signifikan. Dinding dan bagian depan rumah roboh akibat dorongan tubuh gajah. Kendaraan roda dua yang terparkir di sekitar lokasi juga mengalami rusak berat.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Seluruh penghuni berhasil menyelamatkan diri meski sempat diliputi kepanikan.
Menanggapi peristiwa itu, Bupati Siak, Afni Zulkifli, menyatakan kejadian tersebut sebagai peringatan serius atas semakin menyempitnya ruang hidup satwa liar.
“Ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Bisa jadi jalur jelajah gajah terganggu oleh aktivitas industri,” ujarnya saat dikonfirmasi Taktiknews.com
Ia menekankan bahwa konflik ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan indikasi bahwa batas antara kawasan hutan dan area industri semakin kabur. Jika tidak segera ditangani secara komprehensif, potensi konflik serupa dinilai bisa kembali terjadi.
Pemerintah Kabupaten Siak, lanjut Afni, akan berkoordinasi dengan pihak perusahaan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta instansi terkait guna mencari solusi jangka panjang. Upaya mitigasi akan difokuskan pada pemetaan jalur lintas gajah serta penguatan sistem peringatan dini di sekitar permukiman pekerja.
Konflik antara manusia dan gajah Sumatra di wilayah Riau memang kerap terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Perambahan habitat dan ekspansi kawasan industri disebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu pergerakan satwa liar hingga ke area pemukiman.
Peristiwa di Rantau Bertuah ini kembali menegaskan bahwa isu konflik satwa dan manusia bukan lagi persoalan sporadis, melainkan persoalan serius yang membutuhkan kebijakan berbasis ekologi dan perlindungan habitat secara berkelanjutan.***














