Taktiknews.com, Pekanbaru – Upaya memperkuat akses pendidikan bagi pelajar dari keluarga prasejahtera terus dilakukan di Provinsi Riau. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Riau memastikan akan segera menyalurkan program bantuan pendidikan berupa dana seragam sekolah gratis bagi ribuan siswa SMA sederajat di seluruh kabupaten dan kota.
Program ini menyasar pelajar dari keluarga fakir dan miskin yang selama ini kerap menghadapi kendala biaya pendidikan, khususnya untuk pemenuhan perlengkapan sekolah. Melalui skema ini, Baznas Riau menargetkan sebanyak 12 ribu siswa sebagai penerima manfaat pada tahun ini.
Ketua Baznas Riau, Masriadi Hasan, menyampaikan bahwa bantuan tersebut bersumber dari dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang dihimpun secara berkelanjutan. Mayoritas dana berasal dari zakat Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau, serta partisipasi masyarakat yang menyalurkan zakatnya melalui Baznas.
“Ini adalah bentuk nyata amanah zakat yang dipercayakan kepada kami. Dana tersebut kami kembalikan ke masyarakat, khususnya untuk memastikan anak-anak Riau tetap bisa bersekolah tanpa terbebani biaya perlengkapan,” ujar Masriadi di Pekanbaru, Senin (19/1/2026).
Berbeda dengan program bantuan konvensional, Baznas Riau memilih menyalurkan bantuan dalam bentuk uang tunai yang langsung ditransfer ke rekening masing-masing siswa. Setiap penerima akan memperoleh dana sebesar Rp400 ribu, yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan sekolah.
Kebijakan ini dinilai lebih efektif dan transparan, sekaligus memberi keleluasaan bagi siswa dan orang tua dalam menentukan prioritas belanja pendidikan.
“Seragam memang kebutuhan utama, tetapi di lapangan anak-anak juga membutuhkan sepatu, tas, kaus kaki, hingga alat tulis. Karena itu kami menetapkan nominal yang lebih fleksibel agar manfaatnya benar-benar dirasakan,” jelas Masriadi.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa fokus Baznas Riau pada sektor pendidikan merupakan langkah strategis untuk mengatasi persoalan kemiskinan jangka panjang. Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan terhambatnya masa depan generasi muda.
“Jika anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan dukungan yang layak sejak dini, maka peluang mereka untuk berprestasi dan keluar dari lingkaran kemiskinan akan jauh lebih besar,” tegasnya.
Program ini diharapkan menjadi bukti bahwa zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mampu menjadi instrumen pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan di Bumi Lancang Kuning.***














