Banner Website
Politik

Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Jadi Alarm Keselamatan Transportasi Jelang Nataru

49
×

Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Jadi Alarm Keselamatan Transportasi Jelang Nataru

Sebarkan artikel ini
Kecelakaan Bus di Tol Krapyak Jadi Alarm Keselamatan Transportasi Jelang Nataru
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda./Taktiknews/Ho-Sekwan DPR RI

Taktiknews.com, Jakarta – Kecelakaan maut yang melibatkan sebuah bus antarkota di Simpang Tol Krapyak, Semarang, pada Senin (22/12/2025) dini hari, menjadi sorotan serius menjelang lonjakan mobilitas Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Tragedi yang merenggut belasan korban jiwa itu dinilai sebagai peringatan keras atas kesiapan sistem keselamatan transportasi nasional.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, menilai insiden tersebut tidak boleh dipandang sebagai kecelakaan biasa. Menurutnya, peristiwa itu harus dijadikan momentum untuk memperketat pengawasan terhadap armada transportasi umum, terutama di tengah tingginya pergerakan masyarakat selama libur akhir tahun.

“Ini adalah alarm keselamatan yang sangat jelas. Dengan proyeksi mobilitas masyarakat mencapai 119,5 juta orang, negara tidak boleh lengah sedikit pun dalam memastikan keselamatan transportasi publik,” ujar Huda dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (23/12/2025).

Huda menyebut, Pulau Jawa diperkirakan menjadi wilayah dengan pergerakan masyarakat tertinggi selama periode Nataru, baik untuk mudik, liburan, maupun kunjungan wisata. Kondisi tersebut, kata dia, menuntut kesiapsiagaan maksimal dari seluruh pemangku kepentingan.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mendorong Kementerian Perhubungan bersama instansi terkait untuk segera mengambil langkah menyeluruh dalam pengawasan keselamatan seluruh moda transportasi, mulai dari angkutan darat, laut, udara, hingga perkeretaapian.

Secara khusus, Huda menyoroti transportasi bus yang masih menjadi pilihan utama masyarakat karena faktor keterjangkauan. Ia menegaskan pentingnya pelaksanaan inspeksi keselamatan atau ramp check secara ketat dan menyeluruh terhadap seluruh armada bus yang beroperasi selama Nataru.

“Tidak boleh ada toleransi bagi armada yang tidak laik jalan. Bus yang tidak memenuhi standar keselamatan harus dilarang beroperasi. Jangan sampai keselamatan penumpang dikorbankan demi mengejar keuntungan,” tegasnya.

Selain kondisi kendaraan, Huda juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap kesehatan dan jam kerja pengemudi. Beban kerja berlebihan, menurutnya, sering kali menjadi faktor utama kecelakaan lalu lintas selama musim liburan.

“Pemeriksaan kesehatan pengemudi harus dilakukan secara rutin, terutama di terminal-terminal besar. Sopir harus benar-benar dalam kondisi prima dan jam kerjanya diawasi agar tidak melampaui batas kemampuan fisik,” ujarnya.

Dengan potensi kepadatan lalu lintas yang tinggi, Huda menilai titik-titik rawan seperti simpang tol, jalur padat kendaraan, dan kawasan wisata perlu mendapat pengamanan ekstra. Ia juga mendorong penguatan koordinasi antara Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, dan pengelola jalan tol.

“Keselamatan jutaan warga yang melakukan perjalanan adalah tanggung jawab negara. Jangan sampai euforia liburan Nataru berubah menjadi tragedi karena lemahnya pengawasan,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *