Banner Website
Peristiwa

Karhutla Bengkalis Meluas, 200 Hektare Lahan Terbakar di Rupat Utara

25
×

Karhutla Bengkalis Meluas, 200 Hektare Lahan Terbakar di Rupat Utara

Sebarkan artikel ini
Karhutla Bengkalis Meluas, 200 Hektare Lahan Terbakar di Rupat Utara
200 Hektare Lahan Terbakar di Rupat Utara, Tim pemadan masih berjibaku padamkan api. (Taktiknews/Indra)

Taktiknews.com, Bengkalis – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Titi Akar, Pulau Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Riau, terus meluas dan menjadi ancaman serius bagi lingkungan serta keselamatan warga. Hingga saat ini, sekitar 200 hektare lahan gambut dilaporkan terbakar, memicu kekhawatiran akan potensi kabut asap yang lebih luas.

Petugas gabungan masih berjibaku di lapangan untuk mengendalikan api yang sulit dipadamkan. Kobaran api tidak hanya membakar vegetasi, tetapi juga merambat di bawah permukaan tanah gambut yang kering, sehingga menyulitkan proses pemadaman.

Akses menuju lokasi kebakaran menjadi salah satu kendala utama. Tim harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan dengan berbagai moda transportasi. Perjalanan dimulai melalui jalur laut selama berjam-jam, dilanjutkan menyusuri sungai menggunakan perahu kecil, hingga menempuh jalur darat dengan sepeda motor di jalan sempit yang sulit dilalui.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menegaskan bahwa tantangan sudah dimulai sejak perjalanan menuju lokasi.

“Perjuangan belum dimulai saat api terlihat, tetapi sejak perjalanan menuju titik lokasi sudah menguras tenaga dan mental,” ujarnya.

Setibanya di lokasi, petugas langsung menghadapi kondisi ekstrem. Angin kencang yang berubah arah secara tiba-tiba membuat api cepat menyebar ke berbagai titik. Sementara itu, keterbatasan sumber air memperparah situasi di lapangan.

Parit-parit yang mengering memaksa petugas menggunakan pompa air dan peralatan portabel untuk menjangkau titik api. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga ekstra.

Tim pemadam, termasuk personel Manggala Agni, memilih bertahan di lokasi selama beberapa hari terakhir. Mereka tidak kembali ke rumah dan memanfaatkan pondok sederhana milik warga sebagai tempat istirahat sementara.

Di pondok tersebut, para petugas beristirahat seadanya sebelum kembali bertugas memadamkan api. Mereka tetap siaga, bahkan pada malam hari, karena api di lahan gambut dapat muncul kembali sewaktu-waktu.

Karakteristik kebakaran di lahan gambut memang berbeda dengan kebakaran biasa. Api dapat terus menyala di bawah permukaan tanah meskipun bagian atas terlihat padam. Hal ini meningkatkan risiko munculnya titik api baru jika tidak dilakukan pendinginan secara menyeluruh.

Situasi ini menuntut ketepatan dan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Kesalahan kecil dapat berdampak besar, baik bagi keselamatan petugas maupun warga sekitar.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Riau terus memperkuat upaya penanganan karhutla. Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Satgas Karhutla yang tetap bekerja di tengah libur Lebaran.

“Saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh tim Satgas Karhutla, jajaran Forkopimda, dan personel di lapangan. Meskipun dalam suasana Lebaran, mereka tetap berjibaku tanpa henti di lokasi kebakaran untuk memastikan api tidak meluas,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan mengendalikan sejumlah titik api tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak, mulai dari BNPB, TNI, Polri, hingga masyarakat peduli api.

Pemerintah daerah juga telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menambah dukungan, termasuk armada water bombing dan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Langkah ini dinilai penting untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Upaya hujan buatan yang dilakukan bersama instansi terkait mulai menunjukkan hasil. Curah hujan di beberapa wilayah terdampak meningkat dan membantu proses pendinginan lahan pascakebakaran.

Meski demikian, ancaman karhutla belum sepenuhnya dapat diatasi. Faktor cuaca ekstrem akibat perubahan iklim menjadi tantangan besar yang terus membayangi wilayah Riau.

Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi antara semua pihak, termasuk masyarakat, untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi setiap tahun.

Peristiwa di Rupat Utara ini kembali menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kesiapsiagaan, dukungan infrastruktur, serta koordinasi lintas sektor yang kuat agar bencana serupa tidak terus berulang.

Di tengah keterbatasan, para petugas tetap berada di garis depan. Mereka memastikan api tidak merambat ke permukiman warga dan berupaya menjaga agar dampak kebakaran tidak semakin meluas.

Karhutla Bengkalis menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran hutan masih nyata dan membutuhkan penanganan serius serta berkelanjutan dari semua pihak.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *