Banner Website
Peristiwa

Eksploitasi Alam Dinilai Picu Krisis Lingkungan, Kapolda Riau Angkat Isu Moral Manusia

57
×

Eksploitasi Alam Dinilai Picu Krisis Lingkungan, Kapolda Riau Angkat Isu Moral Manusia

Sebarkan artikel ini
Kapolda Riau Gaungkan Homo Ecologicus, Ajak Anak Muda Hentikan Eksploitasi Alam
Diskusi yang berlangsung di Hutan Kota Pekanbaru, Minggu (18/1/2026), itu menyoroti krisis lingkungan yang semakin nyata akibat pola pikir manusia yang menempatkan alam semata sebagai objek eksploitasi. (Taktiknews/Yuris)

Taktiknews.com, Pekanbaru – Wacana pelestarian lingkungan kembali menguat di Riau. Dalam diskusi terbuka bertajuk Hello Green Movement bersama anak-anak muda Partai Hijau Riau, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian utuh dari ekosistem yang harus dijaga bersama.

Diskusi yang berlangsung di Hutan Kota Pekanbaru, Minggu (18/1/2026), itu menyoroti krisis lingkungan yang semakin nyata akibat pola pikir manusia yang menempatkan alam semata sebagai objek eksploitasi.

Menurut Herry, cara pandang berakar dari paradigma homo economicus, yakni pemahaman alam boleh dieksploitasi demi pertumbuhan ekonomi dan kepentingan manusia semata. Pola pikir ini, kata dia, harus segera ditinggalkan.

“Paradigma homo economicus bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga menciptakan krisis spiritual. Manusia menjadi asing terhadap alam, padahal ia hidup dari dan bersama alam itu sendiri,” ujar Herry.

Dalam paparannya, Herry mengutip pemikiran filsuf Jerman Immanuel Kant yang menegaskan bahwa manusia, meskipun memiliki rasionalitas lebih tinggi, tetap tidak bisa dipisahkan dari alam. Keunggulan akal tidak menjadikan manusia berhak bertindak sewenang-wenang terhadap lingkungan.

Ia kemudian mendorong lahirnya paradigma homo ecologicus, yakni manusia yang sadar bahwa setiap tindakan memiliki dampak ekologis dan karena itu harus dibatasi oleh tanggung jawab moral terhadap alam.

“Ego manusia harus ditekan. Alam tidak boleh terus-menerus dikorbankan atas nama kebutuhan jangka pendek,” tegasnya.

Herry menekankan bahwa alam tidak bisa dipandang sebagai entitas pasif. Satu pohon, satu hutan, dan satu ekosistem adalah investasi masa depan, terutama bagi daerah rawan krisis lingkungan seperti Riau.

“Manfaatnya mungkin tidak kita rasakan hari ini, tapi lima atau sepuluh tahun ke depan. Kalau ego tidak dikendalikan, kita sendiri yang akan menanggung akibatnya,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kewajiban menjaga lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan imperatif moral tanpa batas yang harus hadir dalam setiap kebijakan, aktivitas ekonomi, hingga keputusan politik.

Menariknya, Herry menyebut bahwa nilai-nilai ekologis sejatinya telah lama hidup dalam budaya masyarakat Riau. Pantun, syair, dan petuah Melayu banyak mengajarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

“Budaya kita sudah mengajarkan itu. Pohon bukan sekadar tumbuhan, tapi tempat bersandar, berlindung, dan bergantung,” ujarnya.

Ia berharap gerakan hijau yang digagas anak muda Riau tidak berhenti pada diskusi, tetapi menjadi karakter dan kebiasaan hidup yang nyata—mulai dari cara berpikir hingga cara bertindak.

“Jadilah manusia yang berakal, yang mampu hidup berdampingan dengan alam, bukan menghabiskannya,” pungkas Herry.***

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *