Banner Website
Peristiwa

Debu Tebal Proyek Perbaikan Jalan Provinsi Lampung Ruas Pringsewu–Sukoharjo Dikeluhkan, Pengendara Minta Kontraktor Lakukan Penyiraman Rutin

11
×

Debu Tebal Proyek Perbaikan Jalan Provinsi Lampung Ruas Pringsewu–Sukoharjo Dikeluhkan, Pengendara Minta Kontraktor Lakukan Penyiraman Rutin

Sebarkan artikel ini
Kepulan debu tebal menyelimuti ruas jalan milik Pemerintah Provinsi Lampung yang menghubungkan Kabupaten Pringsewu dengan Kabupaten Lampung Tengah di wilayah Sukoharjo, Jumat (24/7/2026). Debu yang beterbangan mengurangi jarak pandang pengguna jalan dan turut memasuki permukiman warga, sementara hingga kini belum terlihat adanya penanganan pengendalian debu secara optimal dari pihak kontraktor. (Fery/Taktiknews.com)

PRINGSEWU, TAKTIKNEWS.COM– Proyek perbaikan ruas jalan milik Pemerintah Provinsi Lampung yang menghubungkan Kabupaten Pringsewu dengan Kabupaten Lampung Tengah menuai keluhan dari pengguna jalan dan warga. Selama proses pekerjaan berlangsung, kepulan debu tebal disebut sangat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama di sepanjang ruas dari kawasan Polsek Sukoharjo hingga Jembatan Way Sekampung, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.

Debu yang berasal dari material tanah dasar, agregat jalan, serta sisa material konstruksi beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Kondisi semakin parah saat cuaca panas disertai hembusan angin, sehingga partikel debu melayang tinggi di udara membentuk awan debu yang menurunkan visibilitas atau jarak pandang pengguna jalan.

Sejumlah pengguna jalan menduga kepulan debu semakin tidak terkendali karena penyiraman badan jalan selama pekerjaan berlangsung belum dilakukan secara optimal. Akibatnya, setiap kendaraan yang melintas memicu badai debu yang menyelimuti badan jalan dan terbawa angin hingga memasuki permukiman warga di sekitar lokasi proyek.

Pengendara sepeda motor menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Selain mengurangi kenyamanan, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kecelakaan karena pandangan pengendara kerap tertutup kepulan debu, terutama saat kendaraan bertonase besar melintas.

Anton, salah seorang pengendara sepeda motor, mengaku hampir setiap hari melintasi ruas tersebut dan merasakan dampak debu yang sangat mengganggu.

“Kalau ada truk lewat, debunya langsung mengepul tinggi. Pandangan tertutup, napas terasa tidak nyaman. Baju putih berubah kecokelatan karena debu tanah merah, sedangkan wajah, rambut, helm, dan kendaraan dipenuhi debu semen berwarna putih keabu-abuan,” ujarnya.

Menurut Anton, selain mengotori pakaian dan kendaraan, kepulan debu juga memaksanya mengurangi kecepatan karena jarak pandang sering kali berkurang drastis demi menghindari potensi kecelakaan.

Selain mengganggu keselamatan berkendara, paparan debu dalam intensitas tinggi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Partikel debu yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, memicu batuk, sesak napas, serta memperburuk penyakit saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, dan penderita asma. Debu yang menempel pada kulit juga dapat memicu iritasi, sementara debu yang masuk ke lingkungan rumah mengurangi kualitas kebersihan dan kenyamanan tempat tinggal.

Dampak tersebut juga dirasakan warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek. Agus, salah seorang warga, mengatakan setiap kendaraan melintas, debu langsung masuk ke pekarangan hingga ke dalam rumah.

“Setiap hari kami harus menyapu dan mengepel berkali-kali. Debu menempel di teras, jendela, lantai, perabot rumah, bahkan masuk ke ruang tamu saat angin bertiup. Pakaian yang dijemur juga sering kotor karena tertutup debu sehingga harus dicuci kembali,” katanya.

Warga berharap pihak kontraktor dapat menjalankan pekerjaan secara lebih profesional dengan menerapkan pengendalian debu selama proses pembangunan berlangsung. Upaya yang dinilai penting antara lain melakukan penyiraman air secara berkala pada badan jalan, terutama saat cuaca panas dan lalu lintas padat, membersihkan material yang tercecer, mengatur mobilitas kendaraan proyek, serta memasang rambu peringatan agar pengguna jalan dapat melintas dengan lebih aman.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (24/7/2026), kondisi kepulan debu di sepanjang ruas jalan provinsi Pringsewu–Sukoharjo masih terjadi. Debu pekat masih beterbangan setiap kali kendaraan melintas dan mengurangi jarak pandang pengguna jalan. Hingga berita ini ditulis, belum terlihat adanya penanganan pengendalian debu yang memadai dari pihak kontraktor, seperti penyiraman badan jalan secara berkala untuk menekan penyebaran debu selama proses pekerjaan berlangsung. Warga dan para pengguna jalan berharap langkah mitigasi segera dilakukan agar aktivitas pembangunan tetap berjalan tanpa mengurangi keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan masyarakat.

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *