Taktiknews.com, Nias – Kekayaan budaya Indonesia kembali menunjukkan pesonanya melalui salah satu warisan tradisional dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Sebuah perhiasan unik bernama Sukhu Ana’a menjadi simbol penting dalam kehidupan sosial masyarakat Nias, khususnya bagi kalangan bangsawan perempuan. Benda ini bukan sekadar aksesori rambut biasa, melainkan representasi status, identitas, serta nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.
Sukhu Ana’a dikenal sebagai sisir emas yang digunakan oleh perempuan dari keluarga terpandang atau bangsawan di Nias Selatan. Perhiasan ini biasanya dikenakan dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan, upacara kehormatan, hingga perayaan tradisional lainnya. Keberadaan Sukhu Ana’a bukan hanya memperindah penampilan, tetapi juga mempertegas posisi sosial pemakainya di tengah masyarakat.
Secara umum, Sukhu Ana’a dibuat menggunakan bahan dasar perak yang kemudian dilapisi emas. Dalam beberapa kasus, perhiasan ini juga dibuat dari emas murni dengan kadar 16 hingga 18 karat, menyesuaikan kemampuan ekonomi pemiliknya. Proses pembuatannya tidaklah sederhana, karena membutuhkan keterampilan khusus serta ketelitian tinggi agar menghasilkan detail ukiran yang indah dan bernilai seni tinggi.
Salah satu pembuat Sukhu Ana’a yang dikenal adalah Adi Duha, atau yang akrab disapa Ama Feliks. Ia merupakan seorang pandai emas tradisional dari Desa Hiliganöwö, Nias Selatan. Keahliannya dalam mengolah logam menjadi karya seni bernilai tinggi menjadikan hasil karyanya banyak diminati, khususnya oleh masyarakat lokal yang masih menjunjung tinggi adat istiadat leluhur.
Menurut penuturan warga setempat, proses pembuatan satu buah Sukhu Ana’a bisa memakan waktu cukup lama, tergantung pada tingkat kerumitan desain yang diinginkan. Setiap motif yang diukir memiliki filosofi tersendiri, mulai dari simbol kemakmuran, kehormatan, hingga perlindungan bagi pemakainya. Hal inilah yang membuat Sukhu Ana’a tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga sarat makna simbolis.
Dari segi ukuran, Sukhu Ana’a umumnya memiliki lebar sekitar 14 cm dan tinggi mencapai 21,7 cm, dengan berat sekitar 75 gram. Dimensi ini menjadikannya cukup mencolok saat dikenakan, sehingga mampu menarik perhatian sekaligus menunjukkan kemegahan perhiasan tersebut. Tak heran jika dalam acara adat, Sukhu Ana’a menjadi salah satu elemen penting yang tidak bisa dilewatkan.
Namun, di tengah arus modernisasi, keberadaan Sukhu Ana’a mulai menghadapi tantangan. Generasi muda cenderung lebih memilih perhiasan modern yang dianggap lebih praktis dan sesuai dengan tren masa kini. Meski demikian, sejumlah tokoh adat dan pelaku budaya terus berupaya melestarikan penggunaan Sukhu Ana’a agar tidak punah ditelan zaman.
Upaya pelestarian dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari edukasi budaya kepada generasi muda, hingga mempromosikan Sukhu Ana’a sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, beberapa pengrajin juga mulai berinovasi dengan menghadirkan desain yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya.
Keberadaan Sukhu Ana’a juga menjadi bukti bahwa perhiasan tradisional memiliki peran penting dalam merekam sejarah dan struktur sosial suatu masyarakat. Ia bukan hanya benda mati, tetapi juga saksi bisu perjalanan budaya yang terus berkembang dari masa ke masa.
Dengan segala keunikan dan nilai yang dimilikinya, Sukhu Ana’a layak mendapat perhatian lebih, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas. Pelestarian warisan budaya seperti ini bukan hanya tanggung jawab komunitas lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga identitas bangsa Indonesia yang kaya akan keberagaman.
Sebagai penutup, Sukhu Ana’a bukan sekadar sisir emas, melainkan simbol kebanggaan, kehormatan, dan jati diri perempuan bangsawan Nias. Di balik kilaunya, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, seni, dan nilai kehidupan yang patut untuk terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.***





