Nasional

Keamanan Anak Jadi Prioritas, Menkomdigi Dorong Layanan Digital Lebih Aman

×

Keamanan Anak Jadi Prioritas, Menkomdigi Dorong Layanan Digital Lebih Aman

Sebarkan artikel ini
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat menerima audiensi Senior Director Government and Public Affairs Asia Pacific The LEGO Group Lizum Mishra di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026)./Taktik.

Jakarta, Taktiknews.com – Ruang digital memberi anak akses luas terhadap teknologi, tetapi pada saat yang sama menghadirkan kebutuhan perlindungan yang tidak bisa ditunda. Pemerintah kini mendorong agar keamanan anak ditempatkan sebagai bagian dari rancangan awal sebuah layanan, bukan sekadar pembatas setelah risiko muncul.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyampaikan penegasan tersebut saat menerima audiensi Senior Director Government and Public Affairs Asia Pacific The LEGO Group, Lizum Mishra, di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Pertemuan itu membahas penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS. Regulasi tersebut menjadi salah satu pijakan pemerintah dalam mengatur penyelenggaraan layanan digital yang melibatkan anak.

Pemerintah menyatakan mendukung kehadiran LEGO di Indonesia. Namun, dukungan tersebut berjalan bersama kewajiban agar platform dan ekosistem digital yang dikembangkan maupun digunakan tetap mematuhi ketentuan perlindungan anak yang berlaku.

Dalam penerapannya, Meutya menyoroti pentingnya pendekatan safety by design. Fitur digital yang memiliki potensi risiko terhadap anak perlu dikelola secara hati-hati, terutama ketika fitur tersebut memungkinkan terjadinya interaksi dengan pengguna lain.

“Kami lebih memilih pendekatan di mana akses tidak diberikan begitu saja tanpa persetujuan orang tua. Kita berikan akses awal tanpa fitur interaksi, lalu orang tua belajar bagaimana mengelola interaksi tersebut,” pungkas Meutya Hafid.

Skema tersebut menempatkan orang tua sebagai bagian dari proses pengenalan dan pengelolaan fitur digital. Anak dapat memperoleh akses awal, sementara kemampuan berinteraksi dalam layanan disesuaikan setelah orang tua memahami cara kerja serta pengaturannya.

Meutya juga menilai edukasi mengenai keamanan digital membutuhkan metode yang lebih konkret. Dengan jumlah pengguna yang besar, penyampaian informasi secara lisan saja dinilai belum cukup untuk membangun pemahaman yang kuat di tingkat keluarga.

Karena itu, orang tua perlu memperoleh pengalaman langsung saat mendampingi anak menggunakan layanan digital, termasuk ketika mempelajari dan mengatur fitur interaksi. Pendekatan tersebut diharapkan membantu keluarga memahami fungsi teknologi sekaligus mengelola penggunaannya secara lebih bertanggung jawab.**

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *