Banner Website
Peristiwa

Auman Harimau Sumatera Gegerkan Area Kerja PHR Duri, BBKSDA Riau Lakukan Mitigasi

37
×

Auman Harimau Sumatera Gegerkan Area Kerja PHR Duri, BBKSDA Riau Lakukan Mitigasi

Sebarkan artikel ini
Harimau Sumatera Masuk Permukiman Warga di Siak, BBKSDA Tingkatkan Mitigasi
Ilustrasi Kemunculan Harimau Sumatera di kawasan permukiman warga Desa Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak. /TaktikNews/Free

Taktiknews.com, Pekanbaru – Kemunculan seekor Harimau Sumatera di wilayah kerja industri migas kembali memicu kewaspadaan. Suara auman predator langka tersebut bahkan terdengar langsung oleh tim lapangan saat proses mitigasi berlangsung di area operasional PT PHR, tepatnya di DSF 125 Tonggak 8, Duri Field, Kabupaten Bengkalis.

Peristiwa ini bermula dari laporan warga dan pekerja terkait kemunculan harimau di kawasan tersebut pada Minggu (5/4). Menindaklanjuti informasi tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau langsung menurunkan tim untuk melakukan pengecekan dan mitigasi di lapangan.

Kepala Balai Besar KSDA Riau melalui Kepala Bidang Teknis, Ujang Holisudin, memastikan bahwa satwa yang terekam dalam video yang sempat beredar merupakan Harimau Sumatera dengan kondisi dewasa.

“Berdasarkan identifikasi dari sumber video yang beredar, benar bahwa satwa tersebut seekor Harimau Sumatera dengan estimasi usia dewasa,” kata Ujang, Selasa (7/4).

Dalam proses awal mitigasi, tim BBKSDA Riau juga menemui seorang karyawan PT PHR berinisial HS yang mengaku melihat langsung keberadaan harimau tersebut. Bahkan, HS sempat mengambil foto sebagai bukti visual kemunculan satwa dilindungi itu.

Keesokan harinya, Senin (6/4), tim gabungan yang terdiri dari personel BBKSDA Riau dan pihak keamanan perusahaan langsung melakukan penelusuran lebih lanjut di lokasi yang diduga menjadi titik kemunculan harimau.

Namun, situasi di lapangan menunjukkan potensi risiko tinggi. Saat melakukan pengecekan, tim mendengar suara auman harimau dari sekitar lokasi awal perjumpaan, yang menandakan satwa tersebut masih berada di kawasan tersebut.

“Saat proses pengecekan di lapangan, tim mendengar suara auman HS di sekitar lokasi awal perjumpaan,” jelas Ujang.

Mendengar auman tersebut, tim gabungan segera mengambil langkah taktis dengan menjauh sekitar 500 meter dari titik suara. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menghindari kemungkinan konflik langsung antara manusia dan satwa liar, sekaligus menjaga keselamatan seluruh personel.

Selain pengamanan personel, BBKSDA Riau juga mengintensifkan pemantauan melalui pemasangan kamera jebak atau camera trap di sejumlah titik strategis. Perangkat ini diharapkan mampu menangkap aktivitas harimau secara visual tanpa harus mendekati habitatnya secara langsung.

Tak hanya itu, tim juga memanfaatkan teknologi drone untuk melakukan pemantauan udara. Dokumentasi dari udara serta pencatatan titik koordinat menjadi bagian penting dalam menentukan langkah mitigasi lanjutan yang lebih akurat dan terukur.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa penanganan kemunculan satwa liar, khususnya Harimau Sumatera, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pendekatan yang digunakan harus mempertimbangkan keselamatan manusia sekaligus menjaga kelestarian satwa yang dilindungi.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BBKSDA Riau juga menurunkan tim medis ke lokasi. Tim ini disiagakan untuk mengantisipasi kondisi darurat yang mungkin terjadi selama proses mitigasi berlangsung.

“Tim medis telah diturunkan sebagai langkah antisipasi emergency untuk standby bersama tim dilapangan dan akan terus berkoordinasi dengan PT PHR dan melakukan penilaian resiko konflik satwa liar sebagai upaya penetapan tindakan dan mitigasi lebih lanjut,” pungkas Ujang.

Kemunculan Harimau Sumatera di area industri seperti Duri Field menegaskan adanya potensi konflik antara manusia dan satwa liar yang semakin meningkat. Hal ini tidak terlepas dari menyempitnya habitat alami serta aktivitas manusia yang semakin mendekati kawasan hutan.

Situasi ini menjadi pengingat penting bahwa keberadaan satwa liar, khususnya yang dilindungi, membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Upaya mitigasi tidak hanya bertujuan melindungi manusia, tetapi juga memastikan satwa tetap dapat hidup di habitatnya tanpa gangguan.

BBKSDA Riau pun mengimbau seluruh pekerja dan masyarakat di sekitar lokasi untuk tetap waspada, tidak melakukan tindakan yang dapat memicu agresivitas satwa, serta segera melaporkan jika kembali melihat keberadaan harimau.

Dengan langkah cepat dan terukur yang dilakukan, diharapkan potensi konflik dapat diminimalisir tanpa harus mengorbankan keselamatan manusia maupun kelestarian Harimau Sumatera yang kini semakin terancam keberadaannya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *