Banner Website
Daerah

Ketika Pedang Pora Ditutup, Yang Tersisa Adalah Kenangan di Pringsewu

24
×

Ketika Pedang Pora Ditutup, Yang Tersisa Adalah Kenangan di Pringsewu

Sebarkan artikel ini
AKBP M Yunnus Saputra bersama Ny Ayu Yunus melintasi lorong Pedang Pora sebagai penghormatan terakhir dari keluarga besar Polres Pringsewu sebelum meninggalkan Mapolres.

Air Mata, Pelukan, dan Kereta Kuda Mengantar Pengabdian AKBP M Yunnus Saputra Meninggalkan Pringsewu

PRINGSEWU, TAKTIKNEWS.COM — Tidak semua perpisahan dapat diukur dengan tepuk tangan. Ada yang justru dikenang dari air mata yang jatuh diam-diam, dari pelukan yang terlalu berat untuk dilepaskan, dan dari langkah yang terasa semakin lambat ketika seseorang benar-benar harus pergi.

Senin pagi, 3 Agustus 2026, halaman Mapolres Pringsewu tidak hanya menjadi saksi berakhirnya masa jabatan AKBP M Yunnus Saputra sebagai Kapolres Pringsewu. Tempat itu berubah menjadi ruang penuh emosi, ketika seorang pemimpin berpamitan kepada keluarga besar yang selama ini berjalan bersamanya.

AKBP M Yunnus Saputra bersama Ny Ayu Yunus melintasi lorong Pedang Pora sebagai penghormatan terakhir dari keluarga besar Polres Pringsewu sebelum meninggalkan Mapolres.

Tradisi Pedang Pora yang biasanya tampil gagah dengan kilatan bilah pedang pagi itu memiliki makna yang berbeda. Lorong kehormatan yang dibentuk para perwira bukan sekadar simbol pergantian jabatan. Di bawah lengkungan pedang itu, tersimpan rasa hormat, penghargaan, dan keikhlasan melepas seorang pemimpin menuju amanah baru.

Di sampingnya, Ny Ayu Yunus menggenggam erat buket bunga. Senyum yang tetap terjaga seolah menjadi cara terbaik menyembunyikan haru yang perlahan memenuhi suasana. Di kanan dan kiri, anggota Polres serta Bhayangkari berdiri memberi penghormatan terakhir dengan mata yang berkaca-kaca.

Tak ada kata-kata panjang. Hanya tatapan yang saling memahami bahwa setiap kebersamaan, pada akhirnya, akan menemukan titik perpisahan.

Satu demi satu anggota menghampiri. Tangan bersalaman lebih lama dari biasanya. Beberapa memilih memeluk. Sebagian lainnya hanya mampu menundukkan kepala sambil mengucapkan terima kasih. Bagi mereka, perpisahan itu bukan hanya melepas seorang Kapolres, melainkan sosok yang selama ini hadir sebagai pemimpin sekaligus keluarga.

Suasana penuh haru ketika AKBP M Yunnus Saputra berpamitan dengan anggota dan Bhayangkari. Pelukan hangat menjadi bahasa yang tak mampu digantikan oleh kata-kata.

Di tengah kerumunan, pelukan silih berganti. Ada anggota yang berusaha tersenyum, namun matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan. Bhayangkari yang selama ini mendampingi berbagai kegiatan bersama Ny Ayu Yunus pun tak kuasa menahan air mata.

Momen itu seolah mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu diingat karena jabatan atau pangkat. Lebih dari itu, seorang pemimpin akan dikenang dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang dipimpinnya.

Selama bertugas di Pringsewu, AKBP M Yunnus Saputra dikenal sebagai sosok yang disiplin namun tetap humanis. Ia mendorong pelayanan publik yang lebih baik, memberi ruang bagi pelestarian budaya lokal, aktif dalam kegiatan literasi, bahkan dikenal gemar menulis. Ketegasan dan kedekatan berjalan berdampingan dalam gaya kepemimpinannya.

Karena itu, ketika masa tugas berakhir, yang hadir bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan luapan rasa hormat yang tumbuh dari perjalanan panjang kebersamaan.

Puncak perpisahan justru terjadi ketika seluruh prosesi hampir usai.

Tidak ada mobil dinas yang menunggu di gerbang. Tidak pula iring-iringan kendaraan mewah. Sebagai gantinya, sebuah kereta kuda telah bersiap membawa AKBP M Yunnus Saputra dan istri meninggalkan Mapolres Pringsewu.

AKBP M Yunnus Saputra dan Ny Ayu Yunus meninggalkan Mapolres Pringsewu menggunakan kereta kuda, diiringi lambaian tangan anggota sebagai simbol berakhirnya satu babak pengabdian dan dimulainya amanah baru.

Saat roda kereta mulai bergerak perlahan, ratusan pasang mata mengiringinya. Lambaian tangan memenuhi halaman Mapolres. Tak sedikit telepon genggam diangkat untuk mengabadikan detik-detik terakhir yang mungkin tak akan terulang lagi.

Kereta itu melaju perlahan, seakan memberi waktu bagi semua orang untuk menyimpan kenangan terakhir.

Dalam sambutan perpisahannya, AKBP M Yunnus Saputra mengucapkan terima kasih kepada seluruh personel atas loyalitas dan kebersamaan selama memimpin Polres Pringsewu. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan selama menjalankan amanah.

“Saya bersama istri mengucapkan terima kasih atas kebersamaan, loyalitas, dan dukungan seluruh personel selama kami bertugas di Polres Pringsewu. Sebagai manusia biasa, tentu selama memimpin ada tutur kata maupun tindakan yang kurang berkenan. Untuk itu saya memohon maaf yang sebesar-besarnya,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar seluruh anggota tetap menjaga soliditas dan memberikan dukungan penuh kepada Kapolres Pringsewu yang baru.

Di sisi lain, Kapolres Pringsewu AKBP Dadi Perdana Putra menyampaikan penghargaan atas dedikasi yang telah diberikan pendahulunya. Menurutnya, fondasi yang telah dibangun menjadi bekal penting untuk melanjutkan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Setiap pemimpin datang membawa cerita. Setiap pemimpin juga akan pergi meninggalkan jejak. Namun hanya sedikit yang mampu meninggalkan kenangan yang membuat begitu banyak orang enggan melepas langkahnya.

Hari itu, di bawah lengkungan Pedang Pora, di antara pelukan yang tak ingin berakhir, dan di balik roda kereta kuda yang perlahan menjauh, Pringsewu belajar satu hal sederhana: jabatan memang memiliki batas waktu, tetapi ketulusan dalam mengabdi akan selalu hidup dalam ingatan mereka yang pernah berjalan bersama. ( Davit )

Banner Website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *